Saya termasuk pengagum berat Boaz Theofilius Erwin Solossa. Sejak pertama kali Ia tampil sebagai pencetak gol terbanyak dalam PON tahun 2002 dengan sepuluh gol, Boaz mulai jadi incaran Tim Nasional Indonesia. Dalam usia 17 tahun, Peter White membawanya tampil di ajang Piala Tiger.
Sangat muda dan langsung jadi pembeda. Ponakan mantan Gubernur Papua, Jaap Solossa ini seterusnya bermain untuk Tim Nasional Indonesia sejak 2004 hingga tahun lalu. Total 48 caps dengan 14 gol. Salah satu golnya yang paling saya ingat adalah saat melawan Uruguay di GBK Senayan.
Meski Timnas akhirnya takluk lewat hattrick Edison Cavani dan gol Luis Suarez, gol Boaz jelas menunjukan kelasnya sebagai salah satu striker komplit dan paling mematikan yang dimiliki Indonesia.
Di level klub, laki laki Papua kelahiran 16 Maret 1986 ini adalah legenda hidup Persipura Jayapura. Tak terhitung banyaknya gelar liga dan piala lainnya yang Ia persembahkan untuk Persipura. Belum lagi gelar individu sebagai pencetak gol terbanyak hingga pemain terbaik.
Boaz adalah panutan. Cintanya pada Persipura berbanding lurus dengan cintanya pada Indonesia. Tak pernah ada ragu. Di salah satu tweetnya Ia menulis, jika dirinya pernah cedera patah kaki sebanyak dua kali. Semuanya saat membela Timnas Indonesia. Tweet itu jadi pengingat bahwa nasionalismenya tanpa keluhan dan basa basi.
Karena itu, saya kaget ketika ciutannya di twitter menuliskan sebuah kalimat penuh satire yang bombastis. “Lebih terhormat mana? monyet cari ilmu di rumah manusia atau manusia yang cari makan di rumah monyet“. Ada apa dengan Boaz?. “Kemarahan” Boaz seperti mewakili ketersinggungan mayoritas kita, bukan cuma orang Papua.
Guru Besar Emeritus Departemen Antropologi UI, Amri Marzali mengatakan, selama ini isyu Papua selalu dipaksa berkelindan dengan hubungan antara etnik dan politik. Kadang diperparah dengan asumsi rasial. Padahal para ahli population genetic sudah lama menafikan bahasan rasial ini karena sejatinya manusia hanya punya satu ras yakni homo sapiens.
Perbedaan warna kulit adalah bagian dari adaptasi terhadap lingkungan. Orang Eropa misalnya, baru berubah dari hitam ke putih sekitar 8000 tahun yang lalu. Kata monyet ini juga digunakan kawanan Belanda saat memanggil seorang anak Indonesia yang pandai menulis, Tirto Adhi Soerjo.
Panggilannya Minke, plesetan untuk monkey. Minke adalah tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang difilmkan oleh Hanung Brahmantyo.
Saya membayangkan Pram sedang menatap jejeran pohon kayu manis yang berdiri angkuh dalam kesepian nun di pedalaman pulau Buru tahun 1975 saat menulis novel ini. Sebuah novel penuh perlawanan. Sebuah novel dengan banyak nilai kemanusiaan yang kadang secara sadar kita pertentangkan.
Bumi Manusia dalam skala kecil adalah adalah kisah cinta dua anak manusia berlatar berbeda dalam pentas pergelutan tanah kolonial. Minke adalah pribumi yang tak boleh bersekolah Belanda. Tetapi karena pandai menulis, aturan itu diterobos. Berulang kali Ia dihinakan. Tetapi Minke tetap berjuang.
Konsisten untuk membela harga diri pribuminya dan cintanya. Meski pribumi, pertemuannya dengan Annelies, seorang gadis campuran Belanda-Jawa membuat cintanya tertaut. Annelies sendiri adalah puteri Nyai Ontosoroh, seorang wanita pribumi dengan suaminya berdarah Eropa, Herman Mallema.
Meski pernikahan ini tak diakui dan berujung pada “ketidaknyamanan” status Anneleis, tetapi kegigihan Nyai dalam mendidik, menyuruh belajar apa saja dan menolak perbedaan kelas membuat Anneleis tumbuh kembang sebagai gadis dengan pendirian kuat.
Minke di satu sisi juga sangat menganggumi Nyai Ontosoroh. Wanita jawa yang keras, pandai dan menolak tekanan. Sebuah kagum yang belakangan berujung fitnah jika dirinya juga jadi simpanan sang Nyai.
Perjuangan menyatukan cinta dan semangat menolak perbedaan dan penindasan lah yang menyatukan ketiga tokoh ini. Mereka berjuang bersama untuk diri sendiri, keluarga dan bangsanya meski pada akhirnya berujung perpisahan Minke dan Anneleis.
Karena itu, dalam framming yang lebih milenial, menjadi sangat naïf ketika makian soal monyet, hitam, keriting dipersepsikan sebagai simbol orang Papua dan kerap digunakan dalam persekusi kolektif bangsa ini. Pertanyaannya adalah dimana nilai nilai Pancasila yang baru kemarin disuarakan dalam upacara kemerdekaan yang gegap gempita.
Hanya dengungan kah Pancasila itu?. Menurut Goenawan Mohamad, Indonesia yang jadi bagian dunia kini mulai terinvasi paranoia, kebencian dan kemarahan. Meski dalam skala kecil, jika dibiarkan secara sadar maka konflik yang berujung pemusnahan akan segera hadir.
Menurut saya, serangan rasisme dalam sepakbola yang terjadi terhadap Yakob dan Yance Sayuri adalah siklus kebiadaban kolektif yang terus dipelihara oleh negara. Saya katakan “dipelihara oleh negara” karena Yakob dan Yance sudah diserang secara bodoh oleh kawanan suporter pendukung salah satu klub besar musim lalu saat mereka kalah di Ternate.
Kasus ini sangat viral dan serangan rasisme bahkan secara membabi buta masuk ke ruang paling privat – keluarga Yakob dan Yance. Anak mereka dibully. Isteri mereka dilecehkan secara verbal.
Kasus ini sempat dilaporkan ke polisi namun belakangan dihentikan penyidikannya karena “keterbatasan”. Saya ketika itu meminta perhatian negara. Meminta federasi untuk turun tangan. Harus ada upaya penegakan hukum yang sungguh-sungguh.
Bahwa akun-akun biadab yang menyebarkan kebencian sebagian adalah akun anonim tetapi sebagian yang lain sangat jelas pelakunya. Ada jejak digitalnya. Ada alamatnya. Dan di dunia yang serba digital saat ini. Apa sih yang tidak bisa dilacak di bawah kolong langit?
Karena tidak ada respons yang cukup terhadap para “kriminal media sosial” seperti ini – agak lucu membandingkan dengan kasus penghinaan terhadap suku Sunda yang kini bergulir di Polda Jawa Barat, pertanyaan saya kok cepat sekali responsnya–serangan rasisme terhadap Yakob kembali terulang saat Indonesia kalah dari Arab Saudi dalam putaran ke empat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Yakob dihinakan sama dengan monyet. Dan sepakbola sekali lagi dicoreng wajahnya dengan sengaja oleh para pendukung sendiri. Padahal kita sangat paham, kegagalan itu adalah buah dari kebodohan Patrick Kluivert yang didukung kawanan penjilat media sosial di federasi, yang tak pernah sekalipun menggelar latihan taktikal di tanah Arab jelang laga itu.
Yakob sendiri sangat kaget saat diminta bermain sebagai bek kanan–bukan posisi idealnya karena Ia terbiasa bermain sebagai winger progresif sejak era kepelatihan Shin Tae-yong maupun saat bermain di Malut United.
Sepulang dari kualifikasi, Yakob terpuruk secara mental. Ia sudah memberikan semuanya untuk Garuda, untuk Indonesia yang Ia cintai sepenuh hati tapi “penghakiman” kolektif yang diterimanya seperti air susu dibalas dengan air tuba. Catatan paling penting dalam dua kasus rasisme di atas adalah diamnya federasi. Tak ada pembelaan sama sekali.
Lalu tragedi ini terus berlanjut dengan episode yang kian memburuk. Dalam laga Malut United melawan tuan rumah Persita di stadion Indomilk Arena Tangerang, sempat terjadi insiden di “tunnel” menuju ruang ganti. Kedua kubu sama-sama protes terhadap kepemimpinan wasit. Emosi yang membara melahirkan keributan.
Tetiba ada seseorang mengenakan rompi media masuk di area tunnel dan mengambil gambar video. Identitasnya kabur karena di ID Card tak ada foto diri. Lagian sesuai regulasi, area ini harusnya steril dari media. Yakob yang melihat oknum ini mengambil gambar mencoba melarang.
Tapi dia lagi-lagi dilecehkan secara verbal dengan bahasa rasis. Terjadi pergulatan dan oknum ini melarikan diri ke arah lapangan. Yakob memburu dan sempat menarik kerah bajunya. Foto tangan Yakob dengan oknum ini disebar dan jadi bukti “adanya kekerasan”.
Semuanya lupa dengan akar masalah. Yakob jadi tertuduh. Sehari jelang pertandingan lawan Arema di Ternate–kurang lebih seminggu setelah insiden di Tangerang. Komisi Disiplin PSSI secara diam-diam bersidang dan memutuskan Yakob dihukum tidak boleh bermain dalam tiga pertandingan BRI Super Leaque.
Tak boleh banding adalah ujung dari keputusan itu. Komisi Disiplin tak meminta klarifikasi apapun ke Yakob atau ke klub. Saya menduga mereka mendapat laporan sepihak. Padahal dalam hukum acara, seseorang punya hal membela diri dan selalu ada asas praduga tak bersalah yang jadi panglima.
Yakob adalah korban rasisme di tunnel saat itu dan kemarahannya adalah sesuatu yang manusiawi setelah dua kasus serangan rasisme sebelumnya “didiamkan” begitu saja. Hal menggelikan lainnya dalam keputusan itu adalah Persita dan panitia lokalnya sama sekali tak tersentuh hukuman apapun.
Karena itu, serangan rasisme yang terjadi untuk kesekian kalinya terhadap Yakob dan terutama Yance Sayuri selepas laga Malut United vs Persib Bandung di Ternate adalah tindakan kriminal yang mesti dilawan.
Membaca postingan terbaru Yance di IG miliknya membuat hati menangis. Mengapa anaknya ikutan diserang dengan brutal. Apa salah anaknya? Yance secara terbuka menulis permintaan tolong kalau anaknya jangan diserang.
Persib Bandung sebagai tim elit dengan sejarah besar mestinya bereaksi secara protektif terhadap pendukung yang rasis. Kelompok suporter yang terorganisir di Bandung harus melakukan investigasi. Temukan pelakunya karena jika sekali saja bermain di dunia digital, jejaknya akan mudah ditelusuri.
Hukum pelakunya untuk tidak diperbolehkan menonton laga Persib di Bandung. Pelaku rasisme harus jadi musuh nomor satu masyarakat. Sekali lagi, sangat tidak adil jika pelaporan ke polisi dilakukan hanya karena jadi korban rasisme dalam kasus “Sunda” tetapi enggan menertibkan pelaku rasisme di rumah sendiri yang menyerang Sayuri Bersaudara.
Serangan rasis yang terus bergulir di media sosial menunjukan kepicikan kita dalam memahami narasi budaya dan sejarah keadaban orang Papua. Saya kutip dialog antara Izaac Hindom, Gubernur Irian Jaya (1982-1988) dengan sejawatnya, Muhammad Ismail, Gubernur Jawa Tengah yang sangat layak jadi pengingat.
Sebagaimana ditulis ulang oleh Andreas Harsono, suatu ketika Ismail menelepon Izaac. Berbasa basi sebentar lalu curhat soal kelakuan mahasiswa asal Papua yang bikin “resah”. Di ujung telepon jauh di Jayapura, Izaac mendengar dengan sabar lalu meminta maaf jika dirinya tak punya waktu banyak untuk “mengurus anak anaknya” yang lagi kuliah di tanah Jawa.
Ismail bertanya, “sesibuk apakah Bapak Gubernur hingga tak sempat datang mengurus mereka di sini?. Dengan nada merendah, Izaac menjawab, “Saya sibuk mengurus anak-anak Bapak, belasan ribu jumlahnya. Mereka datang sebagai transmigran, harus disiapkan tanah, makanan, air minum, tenaga perawat, sekolah dll”.
Di kantor Gubernuran Semarang, Ismail terdiam. “Jadi tolong Bapak mengurus anak-anak saya seperti saya dengan kasih mengurus anak-anak Bapak yang pindah ke banyak tempat di Irian ini,” pinta Izaac.
Jauh sebelum Indonesia ini merdeka dan utuh, sejarah Tidore dan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin telah merekatkan kami di timur Indonesia. Kami di sini bukan sebagai bayangan, sebuah imajinasi liar tetapi lebih pada rasa yang disatukan dalam komunitas bersama.
Dalam bukunya, “Pemberontakan Sultan Nuku, Persekutuan Lintas Budaya di Maluku dan Papua Tahun 1780-1810”, Muridan Widjojo mengakui bahwa salah satu faktor kesuksesan Sultan Nuku mengalahkan Belanda dalam perang adalah karena dukungan orang Papua.
Terutama yang mendiami gugusan kepulauan Raja Ampat yang tergabung dalam kerajaan Salawati, Waigeo, Batanta dan Misool. Mereka mengakui kehebatan Nuku dan mengangkatnya sebagai Sultan untuk tanah Papua.
Mengapa Papua mengakui Nuku dan Tidore sebagai bagian dari hidup mereka?. Karena Nuku dan Tidore mengajarkan keadilan dan persamaan hak dan kewajiban. Pertalian ini bahkan berujung pada keikhlasan Nuku membiarkan orang orang Papua memeluk agama Kristen.
Frans Maniagasi dalam catatannya berjudul “Perahu Layar Sultan Tidore dan Penyebaran Injil di Papua” menyebut kontribusi Sultan Nuku dan Tidore sangat berpengaruh pada kemajuan peradaban dan budaya orang Papua.
Sebagai Sultan dengan kekuasaan besar dan berbasis Islam, pengganti Nuku, Sultan Ahmadul Mansyur juga telah menunjukan sikap kenegarawanannya dengan menyediakan sebuah perahu layar untuk dua misionaris asal Jerman, Carl W. Ottow dan Johan G. Geisler.
Tanggal 5 Februari 1885, Ottow dan Geisler tiba di Mansinam (Manokwari) dan atas ijin Sultan Mansyur, mereka memulai Pekabaran Injil. Ketika Papua yang secara historis jadi bagian dari daulat Tidore di masa lalu terancam lepas diambil Belanda.
Presiden Soekarno memaklumatkan upaya perebutan kembali tanah itu lewat Tri Komando Rakyat. Secara politis, Sultan Tidore Zainal Abidin Sjah diangkat sebagai Gubernur Irian Barat. Kawasan Soasiu yang terletak di jantung Pulau Tidore ditetapkan sebagai ibu kota provinsi.
Jakarta menyebut propinsi Irian Barat tetapi orang-orang Tidore saat itu menamai propinsi itu dengan “Provinsi Perjuangan Irian Barat”. Kata “Perjuangan” bukan sekedar deklarasi perang semata tapi jadi penanda adanya ikatan budaya dan sejarah yang tak bisa terhapus.
Selama ini, kita terlalu sering melakukan pendekatan keamanan atas nama negara untuk rakyat di daerah “terluar” dan punya potensi konflik. Sudah saatnya pola ini berganti dengan pendekatan kesejahteraan dan keadaban. Mencontohlah pada apa yang dilakukan Sultan Nuku lebih dari seabad silam.
Sebagai pengingat, kata Papua adalah istilah umum bernada peyoratif yang diberikan begitu saja oleh Belanda yaitu Papuase Zeerovers. Diskripsi orang Belanda tentang orang Papua lebih cenderung merendahkan terutama yang berkaitan dengan fisik dan karakter.
Istilah orang Papua pada abad 17 dan 18 dalam amatan Gerrit Knaap mengutip A. Haga dalam “Nederlandsch Nieuw Guinea En De Papoesche Eilanden”, tidak hanya merujuk pada orang Papua dan Raja Ampat tetapi meluas juga pada subyek-subyek di Tidore, Halmahera dan Gamrange. Ini wilayah Maluku Utara.
Tempat tinggal Yakob dan Yance saat ini sebagai bagian dari bagian dari Malut United–klub profesional yang bersandar pada nilai kekeluargaan. Jika hari hari ini, kata monyet dan makian rasialis lainnya ditujukan untuk Yakob dan Yance–rasisme itu merujuk pada tipologi orang Papua, sejatinya kalian juga sedang menghina kami.
Dan karena kalian sama dengan Belanda yang merendahkan dan menghina kemanusiaan maka kami melawan!. Dalam “Bumi Manusia”, Pramoedya Ananta Toer memberi sebuah penanda “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung. Kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.”
***




