Tragedi pembunuhan di hutan Patani Barat beberapa waktu lalu bukanlah kisah baru. Ia adalah penayangan kembali episode yang penuh luka dan amis darah. Dalam penayangan kembali episode ini juga menggambarkan potret buram kegagalan negara dan aparatnya.

Negara dinilai kalah oleh mereka yang memikul lebel Orang Tak Dikenal (OTK). Kegagalan negara dalam episode teror dan pembunuhan ini tidak hanya menelantarkan keadilan, tetapi membangunkan akumulasi kekecewaan yang telah mengeras di tubuh masyarakat dan menjadi apa yang disebut Ghost of the Past (hantu masa lalu).

Apa itu Ghost of the Past? ini bukan hantu metafisik, ini adalah trauma kolektif tanpa penyelesaian. Trauma ini melekat dalam pikiran, menjadi darah daging. Setiap langkah warga memasuki hutan, kebun, atau menelusuri pepohonan kelapa yang sunyi lengang.

Trauma itu seperti hantu meneror di antara pepohonan pala, semak belukar dan gelap rerimbunan hutan. Intinya adalah pengulangan luka lama, teror dan pembunuhan. Ketakutan yang diwariskan dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Secara ekonomi-politik, hutan Patani Barat bukan sekadar belantara atau hamparan hutan yang tidak bertuan, ia adalah ruang hidup yang menopang ekonomi warga, terutama para petani kebun. Ruang hidup itu pula mengarsipkan sejarah panjang.

Yakni, kisah Putri Damuli, legenda tiga negeri (Weda, Patani, Maba), cerita Nuku Nowgemen, pemberontakan Baba Hasan, jejak Madrasah Raudhatul Islam, perjuangan Haji Polilo, hingga momentum Pembebasan Irian Barat. Namun, semua itu dirampas oleh teror dan pembunuhan, oleh kegagalan negara.

Di tengah traumatik kolektif, ekspansi tambang ekstraktif turut merubah ruang hidup warga. Hutan Patani dihimpit oleh sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Weda yang hampir seluruh hutannya dan lahan warga telah dikuasai Industri tambang PT IWIP, perusahaan tambang serta kontraktor tambang.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Timur juga telah dikuasai oleh puluhan izin tambang dan aktivitas perusahaan tambang.

Selama hantu masa lalu itu tidak dihadapi, dan selama negara terus absen dari tanggung jawab perlindungan, warga Patani Barat akan tetap hidup dalam penayangan episode kekerasan dan pembunuhan yang penuh amis darah di atas hutan dan tanahnya sendiri.

***

Haerudin Muhammad
Editor