Sepekan setelah dada-dada kita lapang karena saling memaafkan, kita pikir semuanya telah selesai. Padahal, ada satu luka yang masih kita kurung dan diam-diam menolak untuk disembuhkan.

Luka yang terendap dari ingatan terhadap konflik sedarah, ego identitas yang terluka dan cara kita memandang saudara sebagai ‘yang lain’ (otherness). Tulisan ini datang dari rasa memiliki Halmahera. Sepenuhnya Halmahera, bukan potong-potongan identitas. Ini pun ajakan pemulihan bersama.

Ini juga kalkulasi bahwa beban yang harus ditanggung generasi kita hari esok sungguh berat. Sungguh, ancaman ruang hidupnya, tapi mereka masih memanggul simbol-simbol rapuh, pun kapan saja bisa mengancam dan terancam.

Kita terus akrab dengan kekerasan, itu warisan yang tidak pernah kita akui. Kekerasan itu mengepul dalam ingatan, lalu menganggap itu normal. Terus hidup dalam bahasa dan cara kita merespon. Kata ‘ngoni’ dan ‘torang’ menjadi simbol-simbol yang terus mengeras, lalu hidup dalam cara ‘torang’ memberi makna pada ‘ngoni’.

Semuanya tampak spontan (emosi sesaat) dan masuk akal, tapi itu munculnya dari lapisan bawah trauma yang usianya sudah tua. Hari-hari belakang ini, di Maluku Utara, lebih tepat di Halmahera bagian Utara, terjadi luapan dan letupan lagi.

Bagi saya, ini tidak sesederhana tindakan intoleransi sesama dan inkompetensi oknum pejabat publik, tapi wujud rapuhnya komunitas dan trauma kolektif yang kita wariskan.

Akui saja, kita tak pernah benar-benar sembuh atau pulih. Tak perlu malu, ini resonansi dari masa lalu. Ini bukan pertama kali, ini terus direproduksi. Bayangkan dari aneksasi kerajaan, kolonialisme, konflik 1999-2000 dan eskalasi politik.

Generasi kita dihujani banyak sekali amunisi sebagai penyintas dan potensi genetik kekerasan yang kita semai sebagai DNA dan polah asuh di rumah. Lihat saja cara kita merespon konflik, cara elite berbicara di ruang publik dan cara organisasi kita memobilisasi emosi.

Akumulasi! Ini melelahkan karena siklus ini tidak benar-benar diselesaikan, diakui akibatnya satu peristiwa identitas akan terus membawa potensi konflik. Peristiwa, biasanya motif kuasa, memanggul makna yang terlalu berat untuk kita orang lemah lalu berkelahi, berulang ! Tak ada kebanggaan yang kita sisakan untuk generasi.

Kita semua tahu identitas itu cair. Itulah kenapa, sejak lama saya bosan mendengar kata toleransi dan embel-embel moderasi. Menurut keyakinan saya, kata-kata diciptakan sebagai wacana penjajah yang buta pada realitas sosial kita yang saling padu.

Orang Halmahera tidak mengenal model multikultural yang sekedar mengakui koeksistensi (keberadaan banyak identitas) tapi kita menghidupi kesalinan yang kaya dalam rumah kita. Kita sudah terbiasa dengan peleburan banyak identitas (hibriditas budaya) dan hidup dalam kebiasaan parsial dan plural.

Kali ini, mari rendahkan dulu ego kita masing-masing. Peluk luka masing-masing, jangan penjarakan keberagaman dan kesalinan kita. Didik saja pejabat publik yang inkompeten dan buta huruf. Tak adakah hari damai di Halmahera?

Secara pribadi, saya kelabakan menegosiasikan trauma dan lapisan kekerasan yang saya terima sebagai turun temurun, cukup dan putus mata rantai kekerasan. Jangan jadi pembawa (carrier trauma), entah itu trauma, ingatan konflik atau prasangka.

Saya bukan pecundang yang gagap menghadapi konflik tapi kita terlalu lama mengkhianati jalinan dan kesalinan kita sebagai sesama orang Halmahera.

***


Asterlita Tirta Raha Aktivis Perempuan Halmahera

Tim Radar
Editor