The unexamined life is not worth living: Hidup yang tak pernah diuji tak layak dijalani,” kata Socrates

Tulisan ini lahir dari kesadaran sederhana: bahwa perubahan zaman sering kali lebih cepat daripada perubahan cara berpikir kita sendiri. Bukan juga kritik kepada orang lain, tetapi otokritik kepada kita semua: pemuda yang pernah berteriak tentang idealisme, lalu diuji oleh realitas.

Maluku Utara hari ini bergerak dalam arus transformasi yang besar. Industrialisasi berkembang pesat di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, aktivitas ekonomi terasa di Halmahera Utara dan investasi terbaru Israel di Halmahera Barat.

Investasi datang, infrastruktur tumbuh dan kesempatan kerja semakin terbuka. Banyak anak muda; politisi, cendekiawan, kontraktor, birokrat, pengusaha, bahkan sebagian buruh tambang yang sarjana, magister dan doktor menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Tentu, semua ini patut diapresiasi. Pembangunan tidak lahir dari ruang kosong. Namun di tengah percepatan itu, ada satu pertanyaan yang saya kira lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan: apakah nalar pemuda berkembang secepat perubahan yang sedang terjadi?.

Istilah disrupsi, yang dipopulerkan oleh Clayton M. Christensen, dalam buku The Innovator’s Dilemma tentang perubahan besar yang mengguncang tatanan lama. Dalam dunia ekonomi, disrupsi melahirkan model baru yang menggantikan yang lama. Tetapi dalam kehidupan sosial, disrupsi juga dapat mengubah cara manusia berpikir.

Disruption is not merely technological change; it is the collapse of old patterns of thinking. Disrupsi bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi runtuhnya pola-pola berpikir lama.” Namun sesungguhnya, disrupsi terbesar bukan hanya terjadi pada teknologi atau ekonomi.

Disrupsi juga terjadi pada cara berpikir generasi muda. Coba anda sesekali membuka memori masa lalu, saat masih mahasiswa ketika ngopi sambil berdiskusi di kantin-kantin kampus dan sekretariat organisasi. Ditemani rokok, buku dan perdebatan yang tak kunjung usai sampai sepi, hingga larut malam.

Di ruang-ruang kecil itu, kita berbicara tentang demokrasi, tentang keadilan sosial, tentang masa depan daerah, negara dan dunia. Nama-nama seperti Plato, Tan Malaka, Bung Karno, Pramoedya Ananta Toer, Paul Fierra, Rousseau, Jean-Paul Sartre, Gramcky, Jhon Locke, Montisque, Hanna Arent,  danHaiddger

Kemudian, Thomas More, Samuel Huntington, Arbert Enstein, Focault, Jaques Derrida hingga Plato dan Toteles di era Yunani kuno sering menjadi bahan diskusi. Kami percaya satu hal: bahwa pemuda harus berpikir merdeka.

Tetapi waktu berjalan; sebagian dari kita masuk ke politik, sebagian menjadi birokrat, sebagian menjadi pengusaha, lalu sebagiannya lagi bekerja di sektor industri yang kini tumbuh pesat di Maluku Utara. Di titik inilah realitas mulai menguji idealisme.

Tentu, saat ini Maluku Utara sedang mengalami transformasi ekonomi yang amat pesat. Kawasan industri dan tambang berkembang cepat, di Kabupaten Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Barat, hingga Pulau Morotai.

Tambang nikel, emas, investasi industri dan proyek-proyek besar membuka banyak peluang ekonomi baru. Banyak anak muda bekerja di sektor-sektor ini: sebagai teknisi, operator, staf, administrator, buru, kordinator, komprodor, fasilitator, bellanisator dan sebagainya.

Tidak ada yang salah dengan bekerja. Tidak ada yang salah dengan mencari kehidupan yang lebih baik. Tetapi ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah perubahan ekonomi itu juga mengubah cara berpikir kita sebagai generasi muda?.

Sebab di beberapa tempat, kita melihat fenomena yang menarik sekaligus menggelisahkan. Dulu sebagian pemuda berada di barisan paling depan mengkritik tambang. Hari ini sebagian dari mereka justru menjadi bagian dari sistem industri itu.

Dulu sebagian pemuda berdiri di jalanan membawa spanduk perlawanan. Hari ini sebagian dari mereka lebih fasih menghitung jumlah proyek dan saldo rekening. Perubahan seperti itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah. Banyak gerakan di dunia mengalami fase yang sama: fase idealisme, fase kompromi, dan fase kenyamanan.

Yang menjadi persoalan bukanlah perubahan profesi atau perubahan posisi sosial. Masalahnya, muncul ketika nalar kritis ikut menghilang bersama perubahan itu. Padahal pemuda, dalam tradisi pemikiran politik manapun, selalu memiliki satu fungsi utama: menjadi penjaga nurani zaman.

Tan Malaka mengingatkan kita tentang pentingnya berpikir rasional dan kritis dalam bukunya Madilog. Sebab, kemerdekaan tidak hanya soal politik atau ekonomi tetapi juga soal kemampuan berpikir secara merdeka. Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun.

Ini sekadar otokritik kepada kita semua yang pernah menjadi bagian dari generasi yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari pikiran. Barangkali sebagian dari kita memang sedang berjuang menyesuaikan diri dengan realitas hidup: keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab ekonomi.

Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemerdekaan berpikir. Sebab pemuda yang kehilangan keberanian berpikir kritis akan mudah berubah menjadi sekadar pengikut arus. Dan ketika itu terjadi, disrupsi tidak lagi sekadar perubahan teknologi atau ekonomi. Tapi dekadensi, kemelut dan deforestasi.

Tambang mungkin menggali nikel dari bumi. Tetapi sejarah akan mencatat apakah generasi muda juga menggali kedalaman pikirannya sendiri. Warung kopi mungkin tidak lagi seramai dulu dengan diskusi panjang.

Namun semangat berpikir tidak boleh ikut sepi. Sebab masa depan daerah ini dan juga masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kejernihan nalar generasi mudanya.

Dan barangkali, di tengah perubahan besar yang sedang terjadi di Maluku Utara hari ini, pertanyaan yang paling penting bukanlah: berapa banyak investasi yang masuk? Melainkan: apakah pemudanya masih berani berpikir kritis dan merdeka?.

***