Radarmalut.com – Suasana Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sri Dewi Jaya di Kabupaten Pulau Morotai mendadak senyap. Tak ada deru mesin kendaraan yang mengantre, begitu juga kesibukan petugas merentangkan selang dispenser.
Tempat yang biasanya menjadi urat nadi pergerakan warga Pulau Morotai itu tampak lengang dan tak berpenghuni. Selama dua hari berturut-turut, aktivitas pelayanan terhenti total akibat stok BBM yang dilaporkan habis.
Bagi pulau ini, kelangkaan di SPBU Sri Dewi Jaya bukan sekadar gangguan kecil. Tempat tersebut merupakan satu-satunya SPBU resmi yang beroperasi di seluruh wilayah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.
Ketika tangki penampungannya kering, dampak berantainya langsung menjalar ke mana-mana, mulai dari melumpuhkan mobilitas warga, menekan pelaku usaha lokal, hingga mengancam penghidupan para nelayan.
Rahmat, seorang pengendara motor, berkali-kali menatap deretan dispenser BBM yang terkunci rapat dengan wajah kecewa. Hari itu, ia berencana menempuh perjalanan jauh sehingga harus membutuhkan pasokan bahan bakar yang cukup.
“Saya sudah dua kali bolak-balik, tapi SPBU belum juga buka,” ujarnya dengan nada gelisah saat ditemui radarmalut, Selasa (4/8/2026).
Untuk perjalanan jauh, bergantung pada pedagang eceran bukanlah pilihan ramah kantong. Harga BBM di tingkat kios melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 25.000 per liter.
“Sementara saya mau perjalanan jauh ke Jaya, jadi harus isi penuh tangki. Kalau beli di kios harganya terlalu mahal, bahkan bisa sampai Rp 25 ribu per liter. Kalau hanya untuk aktivitas di dalam kota mungkin tidak masalah, tapi ini perjalanan jauh,” jelasnya.
Nasib serupa menimpa banyak warga lainnya. Tanpa opsi SPBU lain, sebagian masyarakat terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi membeli BBM eceran demi menyambung aktivitas harian.
Hingga berita ini diturunkan, Haris, selaku pengawas di SPBU Sri Dewi Jaya Kilometer Tiga, belum memberikan respons saat dikonfirmasi terkait penyebab habisnya pasokan BBM.
***



