Innalillahi wa innailaihi raji’un. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya kawan kami, senior kami, Abdul Kadir D Arif atau biasa disapa Ko Ded.

Hari Selasa, handpone baru saya aktifkan, dan di grup WhatsApp Jogja Mafala (Yogyakarta Maluku Utara Forum Alumni) riuh dengan kabar duka. Berkas-berkas flyer dan ucapan belasungkawa dari seluruh alumni berseliweran.

Semuanya tertuju padamu, Ko Ded. Kepergianmu meninggalkan duka yang begitu dalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gerakan pemikiran di Maluku Utara.

Pertemuan terakhir kami denganmu mungkin terasa seperti baru kemarin. Beberapa tahun lalu, kita bersama-sama duduk merumuskan pembentukan Jogja Mafala, sebuah wadah untuk menyatukan alumni asal Maluku Utara di Yogyakarta.

Pertemuan itu berlanjut saat pelantikan pengurus. Sosokmu yang tenang namun penuh gagasan selalu menjadi energi tersendiri dalam setiap diskusi. Mungkin banyak generasi muda Maluku Utara yang belum sepenuhnya mengetahui siapa dirimu.

Kaulah pelopor yang membuka jalan bagi diskursus dan gerakan sosialisme ilmiah di Maluku Utara pasca reformasi. Kita semua memahami bahwa di era Orde Baru, sebagian besar daerah di Indonesia fokus pada perjuangan menggulingkan rezim Soeharto.

Namun, di Maluku Utara kala itu lebih terkonsentrasi pada perjuangan referendum pembentukan provinsi sendiri. Akibatnya, diskursus tentang sosialisme ilmiah nyaris tidak terdengar.

Semua itu berubah pada tahun 2006, ketika kau tiba di Ternate dan mulai mengajar sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Dengan semangat intelektual yang kau miliki, kau tidak hanya mengajar di ruang kuliah, tetapi juga meng-ideologisasi sejumlah mahasiswa.

Saat itulah kau meletakkan fondasi pertama bagi organisasi gerakan kiri di Maluku Utara dengan mendirikan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) bersama sejumlah kawan-kawan seperjuangan. Semua itu, mulai tumbuh di bawah bimbinganmu.

LMND sebagai organsasi politik, gagasan serta ideologisnya bertumpuh pada perjuangan sosialisme (LMND sebelum perpecahan). LMND lahir dari komite-komite kampus di Indonesia pasca Reformasi pada 1999 dan kongres pertamanya di Surabaya.

Sementara, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) lahir berkisar 1970-an lalu dalam perjalanan mendirikan Perjuangan Rakyat Demokratik (PRD), dan tahun 1980-an PRD mendeklarasikan sebagai partai politik yang bergerak bawah tanah di masa Orba.

Organisasi ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya berbagai inisiatif politik alternatif seperti Papernas dan Popor. Meski dalam perjalanannya LMND mengalami dinamika dan pecah menjadi dua kubu.

Termasuk LMND-PRM yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi Pembebasan, semuanya berakar dari benih yang kau tanam. Kawan-kawan yang terlibat langsung dalam pembentukan LMND di Maluku Utara, seperti Firmansyah Usman.

Sering menceritakan bahwa diskursus kiri dan gerakan sosialisme di Maluku Utara baru terasa masif setelah kedatanganmu. Kaulah yang mengajak mereka membangun LMND, membuka cakrawala berpikir kritis yang selama ini terpendam.

Dari fondasi LMND yang kau bangun. Menurut tuturan Firmasyah, semua kemudian terlibat dalam berbagai gerakan. Ikut membangun Partai Alternatif Papernas hingga kepengurusannya tersebar di beberapa kota dan kabupaten di Maluku Utara.

Bersama dengan organisasi sektor mahasiswa seperti LISMI dan Gamhas, serta di sektor rakyat dengan mengorganisir kaum miskin kota, kami bergerak. Semua denyut nadi gerakan ini, semuanya bermuara pada satu nama, yakni Ko Ded.

Ko Ded adalah pembuka jalan. Kaulah yang memberi alat berpikir bagi generasi muda dan rakyat di Maluku Utara. Fondasi ilmiah yang kau wariskanlah yang kemudian memampukan kami untuk melihat berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik secara jernih dan mendalam, bukan sekadar di permukaan.

Selamat jalan, sang pembuka jalan. Kau mungkin telah pergi, namun gagasan dan semangatmu akan terus hidup, terpatri di setiap pikiran dan jiwa anak muda Maluku Utara yang haus akan keadilan dan perubahan. Karya dan perjuanganmu adalah abadi.

Salam hangat dan doa dari kami, keluarga besar Jogja Mafala dan seluruh kawan-kawan seperjuangan di Maluku Utara. Allah tempatkan dirimu di Surga-Nya, amin ya Allah.

***


Ali Akbar Muhammad adalah seorang penulis buku dan suka ngopi

 

Tim Radar
Editor