Radarmalut.com – Penduduk Maluku dewasa ini terdiri atas berbagai suku bangsa Indonesia yang bermigrasi ke daerah ini sejak masa Kolonial. Bahkan bila dikaji lebih jauh ke belakang sejak masa Emporium dan di masa Imperium, telah banyak suku bangsa serta ras-ras dari berbagai negeri dan benua telah datang ke daerah ini.
Pertemuan antar ras dan suku bangsa ini, kemungkinan besar telah terjadi percampuran sehingga melahirkan keturunan-keturunan yang baru dengan berbagai pola tingkah budayanya. Di beberapa kota sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan meletakkan hubungan komunikasi jauh ke luar batas-batas Nusantara.
Sebagai akibat hubunganhubungan itu terjadi konvergensi gerakan barang dan manusia ke kota-kota tersebut. Dengan demikian tercipta kondisi sosial budaya bahkan sosiolinguistik yang memungkinkan berkembangnya segala unsur kebudayaan. (Prof. EKM. Masinambow: 1996).
Dari segi Ethnologi penduduk kepulauan Maluku merupakan percampuran berbagai ras seperti Ras Austronesia, Polinesia, Deutro Melayu dan Melanesia.
Sekarang ini dapat dibedakan atas suku-suku bangsa yang mendiami beberapa pusat-pusat lingkungan kebudayaan seperti kebudayaan masyarakat peladang serta pemburu yang masih sering berpindah tempat dan kebudayaan pantai yang diwarnai kebudayaan Islam.
Klasifikasi kelompok kebudayaan seperti itu dilakukan oleh Hildred Geertz (1963) yang memasukkan kebudayaan orang-orang Halmahera di Maluku Utara dan orang Alune dan Wemale di pedalaman Seram bersama-sama orang Dayak, orang Toraja, orang Gayo dan orang Rejang serta orang Lampung ke dalam satu kelompok kebudayaan yaitu, kebudayaan masyarakat peladang serta pemburu.
Di pihak lain ada kebudayaan masyarakat pantai yang ditandai dengan pengaruh Islam yang kuat serta kegiatan dagang yang menonjol. Kebudayaan terserbut tersebar di sepanjang pantai di Indonesia yang didukung oleh orang-orang Melayu.
Kebudayaan ini dianut pula oleh orang-orang atau suku bangsa Ambon (Hi tu), Ternate, Tobelo, Makian, Patani, Key dan orang-orang yang berdiam di beberapa pulau di Maluku Tenggara. Suku-suku bangsa yang lain di Maluku misalnya : Morotai, Togutil, Galela, Gane, Weda, Maba, Taliabu, Sula, Seram, Saparua, Rana, Kayeli, Tuguis, Rifato dan Ribolo.
Hildred Geertz selanjutnya menguraikan penganut kebudayaan pantai ini, karena kegiatan berdagang, mereka menduduki pusat-pusat perdagangan sepanjang pantai bersama-sama dengan pedagang yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia.
Mereka itu mengembangkan kebudayaan yang berorientasi pada perdagangan dan sangat mengutamakan pendidikan agama dan Hukum Islam serta mengembangkan bentuk tari, musik dan kesusasteraan sebagai unsur pemersatu utamanya. (Hildred Geertz : 1963).



