Lamun atau biasa disebut gusungi merupakan tumbuhan unik yang tumbuh di bawah laut dan punya banyak manfaat. Lamun ini bukan seperti rumput laut biasa. Dia punya akar, batang, dan daun yang nyata, serta bisa menghasilkan bunga dan biji.

Lamun bisa tumbuh di perairan dangkal sampai kedalaman 50 meter. Menariknya, penelitian di jurnal Lemuru (2022) bilang kalau lamun ini adalah produsen utama yang menyumbang sekitar 15% produktivitas laut di seluruh dunia. Jadi, bisa dibilang lamun adalah fondasi kehidupan di lautan.

Kalau kita lihat dari segi manfaat, lamun itu luar biasa. Dia bisa menstabilkan sedimen di dasar laut dan bahkan mencegah erosi pantai sampai 70% di daerah tropis. Selain itu, padang lamun juga jadi penyerap karbon dioksida terbesar di antara ekosistem laut.

Menyimpan hingga 83 gram karbon per meter persegi setiap tahun, lebih banyak dari hutan mangrove. Studi lain juga menunjukkan bahwa lamun menyediakan habitat untuk lebih dari 400 spesies ikan komersial, mendukung industri perikanan yang bernilai miliaran dolar di seluruh dunia.

Dari sisi lingkungan, lamun menciptakan ekosistem yang kaya akan biodiversitas, melindungi terumbu karang dari sedimentasi berlebih, dan menyaring polutan dengan lebih efektif dibandingkan ekosistem lain. Mereka juga membantu meningkatkan kualitas air dengan menyerap nutrisi berlebih.

Sehingga mencegah eutrofikasi yang bisa membunuh biota laut. Padang lamun di Indonesia menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, dengan satu hektar lamun bisa menyerap 6 ton CO2 per tahun.

Di Pulau Morotai, ada enam jenis lamun utama yang tumbuh, yaitu cymodocea serrulata, cymodocea rotundata, halodule pinifolia, thalassia hemprichii, enhalus acoroides, dan halophila minor. Thalassia hemprichii memiliki kepadatan tertinggi, bisa mencapai 200 individu per meter persegi di Desa Juanga.

Sementara Enhalus acoroides mendominasi di perairan terbuka. Jurnal Biotika (2014) mencatat bahwa komposisi ini bervariasi antar lokasi, dengan indeks keanekaragaman sampai 2,5, menjadikan Morotai sebagai hotspot biodiversitas lamun di Maluku Utara.

Lamun Morotai kaya akan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, steroid, saponin, dan tanin yang bisa diekstrak dari batang dan daun spesies seperti Enhalus acoroides dan Syringodium isoetifolium.

Ekstrak metanol dari E. acoroides bisa memberikan hasil hingga 10%, lebih tinggi dibandingkan n-heksan. Identifikasi fitokimia mengonfirmasi adanya senyawa ini melalui uji reagen standar, dengan flavonoid yang mendominasi pada daun.

Potensi senyawa bioaktif lamun sangat menarik karena memiliki sifat antioksidan dan antimikroba. Flavonoid dan saponin bisa menghambat radikal bebas sampai 80% pada konsentrasi 100 μg/mL. Steroid dan triterpenoid juga berkontribusi pada aktivitas antijamur dan antibakteri.

Penelitian yang dipublikasikan di Akuatek (2020) menunjukkan bahwa ekstrak daun E. acoroides mengandung alkaloid, steroid, dan tanin yang berpotensi sebagai agen terapeutik alami.

Kalau kita uji aktivitas biologis lamun Morotai dengan uji MTT, kita bisa lihat bahwa ada sitotoksik yang rendah pada sel kanker. Ekstrak Halodule pinifolia bahkan bisa mencapai inhibisi 70% pada 50 μg/mL.

Metode ekstraksi polaritas tunggal menunjukkan efektivitas terhadap proliferasi sel abnormal. Beberapa hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah melaporkan hasil positif untuk aktivitas antioksidan dan sitotoksik pada tiga spesies utama.

Secara umum, lamun menunjukkan potensi antikanker dengan cara menghambat siklus sel dan memicu apoptosis. Misalnya, ekstrak metanol dari Enhalus acoroides bisa menekan pertumbuhan sel HeLa sampai 60%.

Senyawa taurin di dalamnya juga menghambat sinyal proliferasi faktor pertumbuhan. Terdapat studi yang menunjukkan potensi antiproliferatif dengan kemiringan negatif pada kurva pertumbuhan sel kanker serviks.

Khusus untuk kanker payudara, ekstrak lamun dari E. acoroides aktif terhadap sel T47D dan MCF-7 dengan IC50 di bawah 30 μg/mL. Ini menghambat proliferasi melalui penurunan oksidasi. Dibandingkan dengan tanaman darat, lamun lebih unggul karena adaptasi di laut yang menghasilkan senyawa unik.

Penelitian di Pharmacon menegaskan pentingnya standarisasi ekstrak lamun untuk toksisitas selektif pada sel kanker payudara. Tahun 2022, ada 66.271 kasus baru kanker payudara di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 22.598 jiwa atau 64 perempuan setiap hari.

Ini membuat kanker payudara jadi yang paling mematikan di kalangan wanita. Lebih dari 50% kasus terdiagnosis di stadium lanjut, yang menurunkan kelangsungan hidup lima tahun menjadi 54-56%. Data dari Kemenkes RI di Dinkes Kampar (2025) menunjukkan pentingnya deteksi dini untuk mengurangi angka kematian ini.

Prospek untuk mengembangkan lamun Morotai sebagai farmakognosi antikanker payudara sangat cerah. Kita bisa melakukan fraksinasi senyawa dan mengarahkannya ke uji klinis fase I untuk obat yang murah dan berkelanjutan.

Kolaborasi antara peneliti lokal dan industri bisa menghasilkan biofarmaka baru dalam waktu 5-10 tahun. Jurnal Sains Medisina mendukung isolasi flavonoid dari lamun sebagai senyawa utama untuk antikanker.

Untuk menjaga keberlanjutan lamun, kita bisa melakukannya melalui budidaya akuakultur. Kita bisa membatasi panen hingga 20% biomassa sambil memantau kepadatan. Ini tidak hanya melestarikan ekosistem, tetapi juga bisa menghasilkan ekstrak bioaktif lebih banyak.

Penelitian yang dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah juga menekankan pendekatan ini untuk biofarmaka antikanker tanpa merusak biodiversitas Morotai.

Harapannya

Masyarakat diharapkan turut aktif menjaga padang lamun dan pengurangan sampah plastik biar stok senyawa bioaktif makin banyak. Pemerintah diharapkan dukung riset obat antikanker dari lamun secara berkelanjutan.

Terutama kanker payudara. Sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat kanker payudara lewat obat alami yang lebih terjangkau.

***


Rinto M Nur Mahasiswa Program Doktor Biologi UGM, sekaligus Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pasifik Morotai.

Haerudin Muhammad
Editor