Radarmalut.com – Sehari setelah pelaksanaan nonton bareng (nobar) film perjuangan dan aksi lilin untuk memperingati 33 tahun wafatnya aktivis buruh perempuan Marsinah, semangat solidaritas yang dibangun mahasiswa BEM Universitas Pasifik Morotai di Taman Kota Daruba masih menyisakan kesan mendalam.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu (9/5/2026) malam itu berlangsung khidmat dan penuh refleksi. Puluhan mahasiswa hadir mengenakan pakaian bernuansa hitam sambil menyalakan lilin sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan, serta pembungkaman suara kaum buruh.

Pantauan di lokasi, suasana Taman Kota Daruba yang biasanya ramai berubah menjadi ruang diskusi dan solidaritas. Cahaya lilin yang mengelilingi peserta menjadi simbol bahwa perjuangan menuntut keadilan dan hak asasi manusia belum benar-benar usai.

Selain pemutaran film perjuangan, mahasiswa juga menggelar diskusi singkat mengenai perjalanan hidup Marsinah, sosok buruh perempuan yang dikenal lantang memperjuangkan hak-hak pekerja sebelum ditemukan meninggal dunia pada 1993 silam.

Menteri Keperempuanan BEM Unipas, Windi Herawati Ngato mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat agar mahasiswa tetap peka terhadap persoalan kemanusiaan dan ketidakadilan sosial.

“Marsinah adalah simbol keberanian. Semangat perlawanannya harus tetap hidup di tengah generasi muda hari ini,” ujarnya.

Sementara, Presiden BEM Unipas, Rifaldi Madjid menegaskan bahwa ruang-ruang refleksi seperti ini penting untuk menjaga keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat kecil dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, aksi solidaritas tersebut juga menjadi pesan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan sikap kritis terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

***

Haerudin Muhammad
Editor
Mirsa Saibi
Reporter