Kekuasaan menguji watak pemenang dan kekalahan menguji kebesaran jiwa. Dalam demokrasi, keduanya sama penting. Sebab, negara tidak hanya runtuh oleh penguasa yang zalim, tetapi juga oleh mereka yang kalah dan enggan berdamai.
Di titik inilah pilihan itu kembali mengemuka: adil atau berkuasa. Di Maluku Utara, Pilkada sering meninggalkan jejak emosional yang panjang. Kemenangan kadang dibaca sebagai izin menyingkirkan, sementara kekalahan dipelihara sebagai luka.
Ketika sentimen dan kepentingan lebih dominan daripada keadilan, demokrasi kehilangan arah etiknya. Pemenang sibuk mengamankan kekuasaan, yang kalah larut dalam kekecewaan. Di tengah tarik-menarik ini, rakyat menunggu: apakah negara hadir sebagai ruang bersama, atau sekadar milik kelompok yang sedang berkuasa.
Padahal demokrasi tidak berhenti pada penghitungan suara. Demokrasi justru dimulai setelah hasil diumumkan. Di sanalah kedewasaan politik diuji, apakah pemimpin mampu merangkul, dan apakah yang kalah mampu bersikap legowo sebagai negarawan.
John Rawls menyebut keadilan sebagai fairness, berlaku adil kepada siapapun: yang lemah, kuat, kaya atau miskin. Selaras dengan pikiran Nelson Mandela bahwa keadilan tanpa rekonsiliasi hanya akan melahirkan konflik baru.
Mandela memilih memaafkan, bukan karena lupa, tetapi karena ingin membangun masa depan. “There is no future without forgiveness.” Tidak ada masa depan tanpa pemaafan. Dengan kata lain, tak ada dendam yang membangun negara, kecuali perdamaian.
Pesan ini relevan bagi semua aktor politik, baik yang menang maupun yang kalah. Kemenangan menuntut kebijaksanaan, kekalahan menuntut kebesaran jiwa. Tanpa keduanya, demokrasi hanya menjadi kompetisi tanpa etika. Sejarah memberi kita cermin yang jernih.
Ketika Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, ia berada di puncak kuasa. Namun yang ia pilih bukan pembalasan, melainkan keadilan: melindungi non-Muslim, menjamin kebebasan beragama dan menjaga martabat tawanan.
Begitu pula Umar bin Khattab, pemimpin yang takut pada tangisan rakyat lebih dari takut kehilangan kekuasaan. Umar adil kepada kawan dan lawan, kepada yang mendukung maupun yang berbeda. Ia memimpin dengan hati, bukan dengan dendam.
Dua teladan ini menunjukkan bahwa kekuasaan sejati tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari keadilan. Pemimpin besar bukan yang paling ditakuti, melainkan yang paling dipercaya.
Maluku Utara hari ini membutuhkan kepemimpinan seperti itu. Kepemimpinan yang tidak memelihara luka politik, tidak menanam sentimen, dan tidak membagi negara ke dalam barisan “kami” dan “mereka”. Bagi pemenang, adil berarti melindungi semua warga tanpa diskriminasi pilihan politik.
Bagi yang kalah, legowo berarti tetap bekerja sama menata demokrasi, mengawasi dengan akal sehat dan mengkritik tanpa merusak. Kekalahan politik bukan akhir pengabdian. Justru di sanalah kenegarawanan diuji: apakah seseorang memilih terus memelihara dendam, atau ikut menjahit kembali tenun sosial yang sempat robek.
Daerah tidak gagal karena kurang pemimpin, tetapi karena kurang pemimpin yang berhati. Ketika hati dipinggirkan, kebijakan menjadi dingin dan kekuasaan kehilangan empati. Sejarah tidak akan mencatat berapa besar kemenangan elektoral, tetapi bagaimana kekuasaan itu digunakan.
Apakah ia menyembuhkan, atau justru memperdalam luka. Karena itu, demokrasi membutuhkan keberanian untuk berdamai, berani merangkul, berani memaafkan dan berani bekerja sama meski pernah berseberangan.
Ayo bergandengan tangan menuju tahun 2026. Mari menjadikan politik sebagai ruang pengabdian, bukan arena dendam. Mari menata kembali demokrasi dengan akal sehat dan hati yang jernih.
Kepada para pemimpin: memimpinlah dengan hati. Karena dari kepemimpinan yang berhati, akan lahir kebijakan yang adil, dan dari keadilan akan tumbuh kepercayaan.
Maluku Utara tidak kekurangan orang cerdas, tetapi membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berani adil. Pemimpin yang mampu berkata cukup pada dendam, dan mulai merawat persatuan.
Semoga dari bumi Moloku Kie Raha, lahir Umar bin Khattab dan Sultan al-Fatih yang baru, pemimpin yang kuat dalam kuasa, lembut dalam hati dan adil dalam laku. Karena hanya dengan cara itulah, kekuasaan berubah menjadi berkah dan demokrasi menemukan masa depannya.
***




