Dalam beberapa tahun terakhir, anggrek hibrida semakin sering dijumpai menghiasi berbagai acara penting. Mulai dari pernikahan, seminar nasional, pelantikan pejabat, hingga dekorasi hotel dan gedung pertemuan, anggrek tampil sebagai elemen visual yang nyaris tak tergantikan.

Warna bunga yang cerah, bentuk yang seragam, serta daya tahan relatif lama menjadikan anggrek hibrida primadona baru dalam industri bunga hias.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap anggrek. Jika sebelumnya anggrek identik dengan tanaman koleksi atau simbol eksklusivitas kalangan tertentu, kini ia hadir sebagai bagian dari estetika publik yang mudah diakses dan bernilai komersial tinggi.

Anggrek tidak lagi sekadar tanaman, melainkan bagian dari bahasa visual dalam berbagai momentum penting. Anggrek hibrida sendiri merupakan hasil persilangan terkontrol, baik antarspesies maupun antargenetik dalam satu genus, yang bertujuan menghasilkan karakter unggul.

Melalui kemajuan pemuliaan tanaman, kultur jaringan, dan seleksi genetik, produsen mampu menghasilkan anggrek dengan warna mencolok, ukuran bunga relatif seragam, dan ketahanan terhadap cekaman lingkungan. Dari sudut pandang teknologi tanaman, perkembangan ini tentu patut diapresiasi.

Namun, di balik tren tersebut, terdapat persoalan yang jarang disadari oleh publik. Dominasi anggrek hibrida di pasar bunga hias berpotensi menggeser perhatian terhadap anggrek spesies alami, termasuk anggrek endemik Indonesia.

Padahal, Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman anggrek dunia dengan ribuan spesies, banyak di antaranya hanya tumbuh di habitat tertentu dan memiliki nilai ekologis tinggi.

Anggrek spesies sering dianggap kurang menarik secara komersial karena variasi bentuknya yang tidak seragam, waktu berbunga yang terbatas, serta kebutuhan budidaya yang lebih kompleks.

Akibatnya, anggrek liar jarang tampil dalam ruang publik dan hanya dikenal di kalangan peneliti atau kolektor tertentu. Kondisi ini menciptakan paradoks: anggrek semakin populer secara visual dan ekonomi, tetapi keberadaan spesies alaminya justru semakin terpinggirkan.

Di sisi lain, tren anggrek hibrida juga dapat dibaca sebagai peluang strategis. Tingginya minat masyarakat terhadap anggrek menunjukkan adanya ruang besar untuk edukasi publik.

Acara-acara penting yang menampilkan anggrek hibrida sejatinya dapat menjadi media pengenalan kekayaan anggrek Indonesia, baik melalui informasi sederhana, pameran pendamping, maupun kolaborasi dengan komunitas anggrek lokal.

Pendekatan yang lebih berimbang antara estetika dan konservasi menjadi kebutuhan mendesak. Anggrek hibrida seharusnya tidak diposisikan sebagai ancaman bagi anggrek spesies, melainkan sebagai produk hilir dari kekayaan genetik yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Tanpa konservasi anggrek alami di habitatnya, sumber genetik untuk pemuliaan anggrek di masa depan akan semakin terbatas. Peran akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku industri florikultura menjadi sangat penting dalam konteks ini.

Dukungan terhadap budidaya anggrek spesies, konservasi ex situ, serta edukasi publik perlu berjalan seiring dengan perkembangan industri anggrek hibrida. Dengan demikian, tren tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kesadaran ekologis.

Anggrek hibrida yang kini menghiasi berbagai acara penting seharusnya mengingatkan kita bahwa keindahan tidak lahir dari ruang hampa. Di balik bunga yang indah dan seragam, terdapat keanekaragaman genetik yang rapuh dan membutuhkan perlindungan. Tren boleh berganti, namun kehilangan spesies adalah sesuatu yang tidak dapat dipulihkan kembali.

***


Elke Gildantia Mahasiswa Program Doktor Biologi, Universitas Gadjah Mada. Lahir di Temanggung, Jawa Tengah 10 Desember 1998. Saat ini penulis fokus pada bidang kajian penelitian tentang tanaman anggrek Indonesia. Dapat dihubungi melalui WA: +6282243840788 dan surel elkegildantia@mail.ugm.ac.id atau egildantia@gmail.com.

Tim Radar
Editor