Jalan hotmix memang membawa manusia lebih cepat menuju tempat tujuan. Tetapi jalan pikiranlah yang menentukan kemana peradaban ini dibawa.

Ada negeri yang rajin sekali membangun jalan. Jalan desa diaspal. Jalan kabupaten diperlebar. Jalan provinsi diperbanyak. Jalan nasional dibangun sana-sini. Bahkan jalan tol dibikin supaya manusia tidak terlalu lama bertengkar dengan kemacetan.

Saya tidak sedang hendak mengatakan pembangunan jalan itu tidak penting. Justru sebaliknya: jalan adalah urat nadi peradaban. Tanpa jalan, hasil kebun sulit dibawa ke pasar, anak sekolah kesulitan mencapai ruang kelas, orang sakit terlambat menuju rumah sakit dan ekonomi berjalan seperti orang mengantuk.

Tetapi ada satu jalan yang sering luput dari perhatian kita: jalan pikiran. Jalan yang satu ini tidak kelihatan di peta. Tidak ada papan proyek bertuliskan: “Pembangunan Jalan Pikiran Tahap I, anggaran sekian miliar.” Tidak ada alat berat yang bisa mengeruk kebodohan. Tidak ada kontraktor yang bisa mengaspal cara berpikir.

Padahal, bangsa yang memiliki jalan raya yang mulus tetapi jalan pikirannya berlubang-lubang bisa saja tetap berjalan menuju tempat yang salah. Di sebuah kampung yang jauh dari gemerlap kota, hiduplah seorang anak.

Katakanlah, Amir. Rumahnya sederhana. Jalan di depan rumahnya masih berupa tanah. Kalau hujan, berubah menjadi lumpur. Kalau kemarau, debunya masuk ke rumah bersama angin.

Amir tidak pernah melihat jalan tol dari dekat. Ia tidak tahu bagaimana rasanya masuk gerbang tol, membayar dengan kartu elektronik, lalu melaju dengan kendaraan tanpa harus berpapasan dengan sapi, ayam, atau anak-anak yang bermain bola di pinggir jalan. Tetapi Amir punya seorang guru yang pernah berkata kepadanya:

“Kalau suatu hari kamu tidak punya jalan untuk pergi, buatlah jalan pikiranmu saja untuk pergi.” Kalimat itu melekat di kepalanya. Amir belajar. Ia membaca buku pinjaman. Ia pergi ke sekolah dengan sepatu yang kadang-kadang lebih banyak terkena lumpur daripada lantai kelas.

Ia belajar dari guru, dari perpustakaan kecil, dari koran bekas, dari radio, dari percakapan orang tua, bahkan dari kesalahan dirinya sendiri. Tahun berganti. Amir tumbuh.

Ia kemudian menjadi seorang pemimpin. Bukan karena di depan rumahnya ada jalan tol. Tetapi karena di dalam kepalanya ada jalan yang terus dibangun.

Di lain kota, ada seorang anak yang kehidupannya jauh lebih nyaman. Rumahnya berdiri di kawasan yang jalannya mulus. Tidak jauh dari pintu tol. Mobil berseliweran setiap pagi. Ia punya gawai mahal. Ia punya akses internet.

Ia bisa pergi ke pusat perbelanjaan kapan saja. Tetapi ia malas membaca. Ia tidak suka belajar. Ia menganggap pendidikan hanya urusan mendapatkan ijazah.

Pikirannya tidak pernah diajak bepergian lebih jauh daripada kepentingan dirinya sendiri. Ketika dewasa, ia mungkin saja menjadi orang yang kuat secara fisik, tetapi miskin pertimbangan.

Ia bisa memiliki kendaraan bagus, tetapi tidak tahu ke mana hendak membawa hidupnya. Bahkan, kalau lingkungan dan pilihannya buruk, ia bisa saja menjadi preman. Ironis, bukan?

Yang satu tinggal di kampung tanpa jalan tol, tetapi mampu memimpin manusia. Yang lain tinggal di kota yang jalan tolnya hampir berada di halaman rumah, tetapi pikirannya tidak pernah menemukan jalan menuju kebijaksanaan. Di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Sebab pembangunan manusia tidak boleh dikalahkan oleh pembangunan beton.

Jalan fisik mempercepat perjalanan. Pendidikan memperluas kemungkinan. Jalan fisik menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Pendidikan menghubungkan manusia dengan gagasan. Jalan fisik membuat barang bergerak. Pendidikan membuat peradaban bergerak.

Dan sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki manusia yang cepat berpindah tempat. Bangsa membutuhkan manusia yang mampu memindahkan cara berpikir dari zaman lama menuju zaman yang lebih baik.

Paulo Freire, seorang pemikir dan pendidik asal Brasil, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (Pedagogi Kaum Tertindas), ia mengkritik pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai penerima informasi secara pasif.

Menurut Freire, pendidikan semestinya membantu manusia membangun kesadaran kritis: kemampuan memahami realitas, mempertanyakannya dan kemudian mengambil tindakan untuk mengubah keadaan.

Di sinilah pendidikan menjadi lebih penting daripada sekadar sekolah. Sekolah bukan pabrik pembuat ijazah. Guru bukan mesin pembaca buku teks. Dan murid bukan gelas kosong yang tugasnya hanya menunggu diisi. Pendidikan seharusnya membuka jendela. Setelah jendela terbuka, manusia melihat dunia. Setelah melihat dunia, ia mulai bertanya.

Mengapa kampung kami tertinggal? Mengapa air bersih sulit? Mengapa harga barang mahal? Mengapa sekolah kami kekurangan buku? Mengapa anak-anak tertentu bisa belajar dengan fasilitas lengkap, sementara yang lain harus menempuh jalan berlumpur? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda seorang anak kurang ajar. Justru dari pertanyaan semacam itulah pikiran mulai tumbuh.

Masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika anak-anaknya bertanya. Masalah terbesar adalah ketika anak-anaknya berhenti bertanya. Sebab manusia yang tidak bertanya akan mudah menerima apa saja. Ia mudah percaya. Mudah diprovokasi. Mudah disuruh membenci. Mudah untuk bertikai. Mudah disuruh memuja dan memuji. Mudah dipakai untuk kepentingan orang lain.

Karena itu, membangun sekolah tanpa membangun tradisi berpikir adalah seperti membangun perpustakaan yang indah tetapi melarang orang membuka bukunya. Kita boleh membangun jalan tol sampai ke pelosok. Tetapi jangan lupa membangun jalan pikiran sampai ke ruang kelas paling sederhana.

Sebab anak kampung tidak boleh merasa bahwa masa depannya berhenti di ujung jalan tanah. Dan anak kota tidak boleh merasa bahwa masa depannya otomatis terang hanya karena rumahnya berdiri di atas jalan yang mulus.

Alamat tidak menentukan kecerdasan. Jalan tol tidak menjamin kebijaksanaan. Kemiskinan fasilitas tidak otomatis melahirkan kemiskinan pikiran. Sebaliknya, kemewahan fasilitas juga tidak otomatis menghasilkan manusia beradab. Kita sering keliru memahami pembangunan. Kita menghitung panjang jalan.

Menghitung jumlah jembatan. Menghitung kilometer aspal. Menghitung gedung sekolah. Menghitung jumlah ruang kelas. Semua itu penting. Tetapi ada angka yang jauh lebih sulit dihitung: berapa banyak manusia yang setelah bersekolah dan berkuliah menjadi lebih mampu berpikir, lebih berani bertanya, lebih menghargai perbedaan, lebih jujur dan lebih bertanggung jawab?

Itulah pekerjaan rumah pembangunan yang sesungguhnya. Sebab sebuah negara bisa memiliki jalan yang lebar, tetapi manusianya sempit dalam berpikir. Bisa memiliki gedung sekolah megah, tetapi budaya membacanya miskin. Bisa memiliki universitas, tetapi alumninya tidak memiliki keberanian untuk mengoreksi kesalahan.

Bisa memiliki teknologi canggih, tetapi digunakan untuk menyebarkan kebencian. Pada titik itu, kita perlu bertanya: Apa sebenarnya yang sedang kita bangun? Apakah kita hanya sedang membangun tempat agar manusia lebih cepat bergerak? Ataukah kita sedang membangun manusia agar tahu ke mana harus bergerak?

Pertanyaan itu penting, terutama bagi daerah-daerah yang selama bertahun-tahun merasa pembangunan selalu datang terlambat. Jangan sampai anak-anak di kampung hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus menjadi pelaku pembangunan.

Jangan hanya bangunkan jalan agar mereka bisa keluar dari kampung. Bangunkan pula pendidikan agar ketika mereka keluar dari kampung, mereka membawa pengetahuan, karakter, dan keberanian untuk kembali membangun kampungnya.

Sebab sesungguhnya, jalan terbaik dari sebuah kampung menuju masa depan bukan selalu jalan tol. Kadang-kadang ia bernama buku. Kadang-kadang ia bernama guru. Kadang-kadang ia bernama perpustakaan kecil. Kadang-kadang ia bernama seorang ibu yang terus menyuruh anaknya sekolah.

Dan kadang-kadang ia hanya berupa satu kalimat sederhana dari seorang guru: “Belajarlah. Jangan biarkan keadaan hari ini menentukan siapa dirimu besok.” Mungkin itulah sebabnya kita tidak boleh hanya membangun jalan. Kita harus membangun jalan pikiran.

Karena jalan yang dibangun dari beton akan menghubungkan desa dengan kota. Tetapi jalan pikiran akan menghubungkan manusia dengan masa depan. Dan kalau kelak seorang anak kampung yang dahulu berjalan di atas lumpur menjadi pemimpin yang bijaksana, jangan tanyakan kepadanya di mana jalan tolnya.

Tanyakan kepada gurunya: “Siapa yang pertama kali membuka jalan di dalam kepalanya?” Sebab, peradaban tidak dibangun hanya oleh semen, besi, aspal dan anggaran. Peradaban dibangun oleh manusia yang pikirannya tidak pernah berhenti bertanya, berdiskusi dan berkarya.

***