Radarmalut.com – Rumput liar mencapai sekitar enam meter menyelimuti hampir seluruh bangunan pabrik es balok di Desa Tanjung Saleh, Kabupaten Pulau Morotai. Pagar, dinding, hingga menara penampung air tertutup tanaman merambat, menjadi gambaran jelas bahwa fasilitas yang pernah penopang aktivitas nelayan itu telah lama terbengkalai.

Pantauan radarmalut pada Jumat (31/7/2026), tidak terlihat aktivitas pekerja maupun kendaraan yang keluar masuk di lokasi. Pabrik es tersebut diketahui telah berhenti beroperasi selama kurang lebih tiga tahun.

Padahal, fasilitas itu dibangun atas usulan kelompok nelayan Desa Tanjung Saleh yang beranggotakan sekitar 40 orang. Demi mewujudkan pembangunan pabrik, masyarakat bahkan rela menghibahkan lahan seluas 10 x 10 meter sebagai syarat pembangunan.

Pengurus pabrik es, Yakup, mengatakan saat masih beroperasi, pabrik tersebut sangat membantu nelayan memperoleh es dengan harga yang lebih terjangkau karena mendapat subsidi. Keberadaannya juga mempermudah nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan sebelum dipasarkan.

Namun sekarang, kondisinya berbanding terbalik. Nelayan kembali bergantung pada pemasok es dari luar dengan harga yang lebih mahal dan pasokan yang kerap terbatas, terutama saat musim ikan tiba.

Yakup mengungkapkan, berhentinya operasional pabrik bermula dari kerja sama pengelolaan dengan seorang pengusaha cold storage di Desa Tiley Pantai bernama Mairudin. Perjanjian dibuat pada 27 Februari 2022 sampai 30 Januari 2023 dengan sistem pembagian hasil 40 persen untuk pengurus pabrik dan 60 persen pihak pengelola.

Menurutnya, setelah dokumen kontrak ditandatangani, pihak pengurus meminta satu salinan sebagai arsip. Namun hingga kini salinannya tidak pernah diberikan.

“Setelah kami tanda tangan, kami minta satu lembar foto kopi kontrak supaya kami juga pegang, tapi sampai sekarang tidak pernah diberikan. Akhirnya mesin pabrik rusak tanpa ada tanggung jawab dari pihak pengontrak,” jelasnya.

“Padahal dalam salah satu poin kontrak disebutkan bahwa jika terjadi kerusakan mesin selama masa pengoperasian, pihak pengontrak wajib memperbaikinya,” tambahnya.

Akibat kerusakan mesin yang tak kunjung diperbaiki, operasional pabrik berhenti total. Bangunan yang dulunya menjadi harapan nelayan saat ini berubah menjadi bangunan tak terurus yang diselimuti rumput liar.

***

Haerudin Md
Editor
Mirsa Saibi
Reporter