Radarmalut.com – Tradisi falo (timbahlaor di Kabupaten Pulau Morotai mulai mendapat perhatian dalam dunia akademik internasional. Tradisi menangkap cacing laut musiman yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir Morotai itu dinilai memiliki nilai budaya, sosial, hingga potensi ekonomi yang besar.

Hal tersebut tercantum dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries tahun 2025 berjudul The Tradition of Falo Laor (Sea Worm) as a Seasonal Local Food Products in the Waters of Morotai Island.

Penelitian itu menyebutkan bahwa falo laor bukan sekadar aktivitas menangkap cacing laut, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat pesisir Morotai yang sarat nilai kebersamaan dan pengetahuan lokal.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat biasanya berkumpul di wilayah pesisir pada waktu-waktu tertentu setiap tahun untuk menangkap laor yang muncul mengikuti fase bulan dan kondisi alam.

Selain menjadi tradisi budaya, laor juga dikenal sebagai sumber pangan masyarakat pesisir. Warga Morotai mengolah laor menjadi berbagai jenis makanan khas seperti sambal laor, laor asap (tari), bakasang, hingga laor bakar bambu. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa laor memiliki kandungan protein dan nutrisi yang cukup tinggi.

Tradisi falo laor dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya daerah. Apalagi, sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil menjadikan tradisi serupa sebagai agenda wisata tahunan yang menarik perhatian wisatawan.

Selain nilai budaya dan ekonomi, masyarakat Morotai juga dinilai masih mempertahankan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan dalam menangkap laor. Pengetahuan lokal seperti membaca musim, kondisi laut, hingga waktu kemunculan laor menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.

Penelitian itu juga mendorong pentingnya pelestarian falo laor agar tetap dikenal generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya pesisir Morotai.

***

Haerudin Muhammad
Editor
Mirsa Saibi
Reporter