“Pelatihan ini menambah wawasan baru tentang bagaimana menjaga mutu sekaligus etika dalam penelitian lapangan.

Pulau Morotai menyimpan kisah tentang tekad anak-anak untuk terus belajar serta para guru yang gigih meningkatkan mutu pendidikan. Meski demikian, ada tantangan besar terkait bagaimana memastikan setiap program pembangunan benar-benar membawa dampak nyata?

Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) hadir sebagai jawaban. Pada 9-13 September 2025, sebanyak 16 peserta yang terdiri dari mahasiswa, alumni, dan Dosen Universitas Pasifik (Unipas) mengikuti pelatihan enumerator bertempat di Morotai Selatan.

Pelatihan ini menjadi pijakan penting untuk mempersiapkan enumerator sebagai garda terdepan dalam mengumpulkan data yang akurat, beretika, dan dapat dipertanggungjawabkan. Diawali dengan sesi tentang child safeguarding bahwa perlindungan anak bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama.

Selama tiga hari pertama, para peserta diajak mengenal berbagai instrumen penelitian, mulai dari wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi kelas, hingga kuesioner kuantitatif seperti capacity assessment dan district assessment serta lainnya.

Suasana belajar menjadi hidup karena metode yang digunakan adalah learning by doing. Instrumen diperkenalkan, dipraktikkan langsung, lalu dibedah kembali bersama untuk dievaluasi. Hari keempat dan kelima menjadi momen puncak pelatihan, ketika para peserta turun ke lapangan.

Mereka melakukan uji coba di dua sekolah dasar yang menjadi lokasi intervensi. Dari pengalaman nyata inilah keterampilan mereka benar-benar terasah, bukan hanya menguasai instrumen, tetapi juga belajar menghadapi dinamika dan tantangan yang muncul di lapangan.

“Kami di kampus lebih banyak belajar teori, sementara para guru di sekolah lebih banyak menguasai praktiknya, walau minim teori. Tools assessment literasi dan numerasi adalah jawaban bagaimana praktik di lapangan yang sesungguhnya,” kata Dosen Prodi PGSD Unipas Morotai, Nurhani Mahmud.

Pada awalnya, kemampuan peserta sangat beragam. Ada yang masih kikuk menggunakan aplikasi KoboToolbox, ada pula yang ragu saat membaca instrumen penelitian. Namun, dengan pendekatan teknik belajar blind mapping dan learning by doing menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keahlihan yang mencolok setelah pelatihan.

“Awalnya saya kesulitan memahami instrumen, tetapi setelah berulang kali latihan, saya jadi jauh lebih percaya diri,” ujar mahasiswa Unipas Morotai, Kurniawan Pawane.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, antara menggabungkan teori, praktik, dan simulasi lapangan maka kemampuan enumerator dapat berkembang dengan cepat.

Pelatihannya tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga integritas. Para enumerator dibekali pemahaman untuk menjaga kerahasiaan data, menggunakan bahasa yang netral serta menghormati budaya lokal, dan memastikan proses bebas dari bias.

Kesadaran akan pentingnya etika ini sangat krusial, karena data yang dikumpulkan tak sekadar angka. Informasi tersebut akan menjadi dasar untuk menilai sejauh mana program KREASI memberi dampak di 13 sekolah dasar dan 8 PAUD yang menjadi wilayah intervensi.

Meski pelatihan berjalan lancar, hasil evaluasi mencatat beberapa hal yang perlu diperbaiki. Sesi diskusi kelompok dinilai terlalu singkat karena banyaknya instrumen yang dibahas karena akan digunakan dalam pengambilan data, sehingga peserta belum memiliki cukup ruang untuk membahas berbagai tantangan di lapangan.

Ke depan, disarankan agar pelatihan serupa memberikan porsi lebih besar pada simulasi berbasis digital serta menyediakan modul sederhana dalam bahasa lokal. Dengan begitu, para enumerator dapat bekerja lebih mandiri tanpa mengurangi kualitas standar yang diharapkan.

Pelatihan enumerator KREASI di Morotai bukan sekadar ajang transfer pengetahuan. Ia menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara universitas, masyarakat, dan lembaga pembangunan mampu melahirkan agen perubahan di tingkat lokal.

Di tangan para enumerator muda, data tidak lagi dipandang hanya sebagai angka. Data berubah menjadi cerita, pijakan, sekaligus cermin untuk memastikan setiap langkah intervensi benar-benar menyentuh kehidupan anak-anak Morotai.

***

Welhelmus Poek Konsultan Monitoring Dampak Program KREASI

Haerudin Muhammad
Editor