Radarmalut.com – Jembatan di Taman Kota yang menjadi akses utama bagi masyarakat di Pulau Kolorai, Galo-Galo, dan Ngele-Ngele Besar mengalami rusak parah. Hal ini mempersulit mereka untuk mendapatkan layanan publik di Kota Daruba, Pulau Morotai.

Kerusakan paling mencolok terlihat pada lantai jembatan. Pasalnya, bagian papan penyanggah telah lapuk, bahkan hilang sehingga menyisihkan lubang-lubang besar yang membahayakan siapa pun yang melintas. Tak hanya itu, atapnya pun sudah tercabut dari rangka bangunan.

Jembatan tersebut juga adalah tempat di mana warga menambatkan perahu yang menjadi satu-satunya moda transportasi laut yang mereka andalkan untuk menjangkau pusat kota agar bisa menjual hasil pertanian, keperluan berobat, dan lainnya.

“Kami merasa tidak aman setiap kali melewati jembatan ini, apalagi saat cuaca buruk atau pada malam hari. Kondisinya sangat berbahaya sekali,” kata Goethe, warga Pulau Kolorai saat ditemui radarmalut, Minggu (13/7/2025).

Kekhawatiran semakin bertambah dalam situasi darurat ketika mengantarkan warga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), seperti hendak melahirkan. Karena tidak ada pilihan lain untuk cepat mencapai pusat layanan kesehatan.

“Kalau ada perempuan yang mau melahirkan atau pasien dalam kondisi gawat, kami tetap harus lewat jembatan ini, meskipun kondisinya sangat membahayakan,” jelasnya.

Sementara, Fauji, warga lain, mengatakan bahwa jembatannya memang pernah beberapa kali direhabilitasi. Namun, tak lama kemudian tetap mengalami kerusakan, sebab konstruksinya tanpa mempertimbangkan pasang surut air laut.

“Sudah diperbaiki berkali-kali, tapi papan masih saja terlepas dan cepat rapuh. Mungkin saja bahan-bahannya untuk jembatan kurang bagus akhirnya mudah rusak,” ungkapnya.

Sejak 2023 hinaga 2025, jembatan penghubung ini tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Daerah Pulau Morotai. Meski merupakan satu-satunya akses transportasi laut yang menghubungkan warga dengan pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan publik di daratan.

“Kami berharap pemerintah daerah serius menangani masalah ini. Bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi menyangkut keselamatan dan kesejahteraan kami sebagai warga pulau,” imbuhnya.

***

Haerudin Muhammad
Editor