Radarmalut.com – PT Berkah Freshindo Tuna (BFT) melakukan pengiriman perdana ikan tuna dari Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, sebanyak 39 ton tuna tujuan Jakarta menggunakan empat unit kontainer reefer (pendingin) dari fasilitas Cold Storage Daeo.
Proses pengisian kontainer dimulai sejak Kamis siang sekitar pukul 12.00 hingga pukul 23.00 WIT. Selanjutnya, pukul 08.00 pagi, kontainer diberangkatkan menuju Pelabuhan Imam Lastori Daruba dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.
Sesampainya di lokasi, aktivitas bongkar muat menggunakan crane kapal mulai dilakukan sekitar pukul 09.00 WIT. Dua unit kontainer lebih dahulu dimuat pada pagi hari, kemudian dilanjutkan dua kontainer lainnya pada siang hari.
Kontainer yang digunakan merupakan jenis reefer container berpendingin yang umum dipakai untuk pengiriman hasil perikanan beku. Sistem pendingin tersebut berfungsi menjaga kualitas dan suhu ikan tuna selama proses distribusi.
Pengiriman perdana itu menjadi langkah awal penguatan industri perikanan Morotai sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat pesisir melalui keterlibatan nelayan dan pengepul lokal.
Direktur PT Berkah Freshindo Tuna, Hendra mengatakan, seluruh tuna yang dikirim merupakan hasil kerja sama perusahaan dengan para nelayan dan pengepul dari berbagai wilayah di Pulau Morotai.
“Kegiatan ekspor hari ini menjadi langkah awal kami dalam memperkuat posisi Morotai sebagai salah satu pusat perikanan tuna berkualitas. Sebanyak empat kontainer dengan total sekitar 39 ton ikan tuna berhasil kami kirim ke Jakarta,” katanya.
Menurut Hendra, Morotai memiliki potensi sumber daya tuna yang besar dan berkualitas, sehingga membutuhkan dukungan sistem distribusi dan penyimpanan yang baik agar mampu bersaing di pasar nasional maupun pasar ekspor.
Karena itu, PT BFT terus memperkuat fasilitas cold storage dan membangun sistem rantai pasok terintegrasi mulai dari nelayan, supplier, hingga distribusi akhir.
“Kunci utamanya adalah menjaga kualitas ikan melalui sistem cold chain dan stabilitas es sejak dari lokasi penangkapan,” ujarnya.
Selain memperkuat distribusi, perusahaan juga menargetkan kapasitas pengumpulan tuna mencapai 10 ton per hari dari berbagai titik pengepul di Pulau Morotai. Target itu dinilai dapat memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir, khusus nelayan lokal yang kini mulai terlibat dalam rantai industri perikanan modern.
Namun demikian, Hendra mengakui masih terdapat tantangan distribusi di wilayah pengepul yang berada di desa-desa terpencil seperti Bere-Bere dan sekitaranya di Kecamatan Morotai Utara.
“Dengan wilayah yang cukup luas dan akses yang beragam, kami terus berupaya memastikan kesiapan transportasi, ketersediaan es, serta mobilisasi yang efektif agar kualitas ikan tetap terjaga sampai ke tujuan,” imbuhnya.
***




