Radarmalut.com – Ratusan massa yang mengatasnamakan Solidaritas Pemuda Mahasiswa Waringin (SPMW) menggelar aksi demonstrasi disertai dengan pemboikotan aktivitas bongkar muat BBM di Pelabuhan Desa Waringin, Kabupaten Pulau Morotai, Senin (15/12/2025).
Aksi tersebut juga melibatkan sejumlah organisasi di antaranya HMI, PMII, BMI, SMI, Sekolah Critis, SAMURAI, GMNI, dan LMND. Massa aksi memprotes terkait kebijakan pemerintah daerah yang dinilai mengancam keselamatan warga di kawasan tersebut.
Koorlap aksi, Hasanudin mengungkapkan, aktivitas bongkar muat BBM di pelabuhan telah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat. Menurutnya, kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah tidak didahului dengan kajian keselamatan yang memadai.
“Akibat dari bongkar muat BBM ini, jalan pemukiman warga mengalami kerusakan, udara tercemar debu, keselamatan anak-anak terancam, serta mengganggu jalannya ibadah keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat,” katanya.
Hasanudin menyebut kegaiatan tersebut kerap menghambat hajatan masyarakat, baik acara pernikahan maupun prosesi kedukaan. Hal ini, katanya, telah menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah warga Desa Waringin.
Penolakan terhadap aktivitas bongkar muat BBM ini sebenarnya telah berlangsung sejak dua tahun lalu. Pada saat itu, masyarakat dan mahasiswa melakukan aksi boikot setelah muncul keresahan akibat dampak yang dirasakan oleh warga.
“Peristiwa 10 Juli 2023 menjadi catatan kelam bagi masyarakat Desa Waringin. Saat itu, Penjabat Bupati Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, berjanji akan merealisasikan aspirasi dan tuntutan warga, namun janjinya tidak mandek,” imbuhnya.
Massa menuntut kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai, yakni:
- Segera membangun jalan khusus untuk aktivitas bongkar muat BBM.
- Memperjelas status Pelabuhan Desa Waringin.
- Pemerintah daerah memfasilitasi sarana dan prasarana pelabuhan bongkar muat BBM di Desa Waringin.
- Bupati Pulau Morotai segera merealisasikan seluruh tuntutan masyarakat.
***



