Radarmalut.com – Pembangunan Jembatan Rua sudah rampung. Namun, proyek penanganan dampak bencana tersebut menyisakan persoalan lantaran pagar Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Ternate yang roboh akibat pengerjaan hingga kini belum diperbaiki.

Pekerjaan mitigasi bernama Pembangunan Jembatan Alur Sungai Baru Rua, dengan nomor kontrak: HK.02.01/Bpjn22.7.4/2025/PKT-05 ini dikerjakan oleh PT Fida Teknik Pratama dengan nilai anggaran Rp 5,9 miliar. Hal itu merupakan tanggap darurat pascabencana banjir bandang pada Agustus 2024.

Meski jembatan yang selesai dibangun akhir tahun 2025 lalu itu telah berfungsi optimal melindungi pemukiman warga, tetapi pemulihan fasilitas publik di sekitarnya dinilai terabaikan.

Kepala SD Negeri 66 Kota Ternate, Hamid Suma menyayangkan pembongkaran pagar sekolahnya yang tak kunjung dikembalikan ke kondisi semula. Keluhan ini disampaikannya dalam kegiatan sosial penguatan aparatur yang diselenggarakan Pemerintah Kelurahan Rua, beberapa pekan lalu.

Menanggapi hal tersebut, Lurah Rua, Ma’ruf M Saleh mengatakan, siap mengambil tindakan dengan berencana melayangkan surat resmi kepada pelaksana proyek untuk ada perhatian khusus.

‘Terkait hal itu, nanti kami menyurat ke pihak ketiga. Apakah dari pihak kelurahan langsung atau kepala sekolah yang menyurat dengan diketahui dan ditandatangani oleh saya,” katanya di sela-sela kegiatan.

Sementara, anggota Tim Komunikasi Publik Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku Utara, Galih menyebut perbaikan pagar sekolah yang dibongkar tidak masuk dalam tanggung jawab mereka.

“Sudah saya konfirmasi ke PPK, mereka tidak ada komitmen atau janji dengan siapa pun. Tetapi, untuk pagar rumah warga terdampak, sudah dibantu dan ditindaklanjuti,” ujarnya saat dihubungi via pesan WhatsApp, Senin (2/11/2026).

Terpisah, perwakilan kontraktor PT Fida Teknik Pratama, Aldi, memberikan penjelasan berbeda. Ia mengklaim ada kesalahpahaman antara kesepakatan awal dan tuntutan pihak sekolah saat ini.

Menurutnya, berdasarkan laporan tim teknis di lapangan, pihak sekolah sebelumnya telah mengizinkan pembongkaran pagar demi kelancaran pembangunan oprit (jalan pendekat) jembatan.

“Pihak sekolah saat itu hanya meminta dibuatkan jalan akses saja, itu yang saya ketahui. Kalau memang minta perbaikan pagar, pasti langsung kami kerjakan. Buktinya, beberapa rumah warga pagarnya kami bangun kembali,” tandasnya.

Kendati demikian, untuk menyelesaikan persoalan, Aldi berjanji akan segera menerjunkan kembali tim teknis ke Kelurahan Rua untuk berkoordinasi dan mencari titik temu langsung dengan kepala sekolah.

***

Haerudin Muhammad
Editor