“Sepak bola bukan sekadar permainan tentang menang dan kalah, melainkan tentang keadilan yang bergerak bersama bola.” Ketika kritik dihukum, siapa yang sebenarnya tercederai?.
Apa yang disampaikan Asghar Saleh melalui unggahan di akun Facebooknya, pasca laga antara Persib Bandung dan Malut United di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) beberapa waktu lalu, sesungguhnya bukan sekadar luapan emosi seorang pecinta klub.
Ia adalah refleksi tentang kegelisahan atas kepemimpinan wasit dan integritas pertandingan. Kritik itu keras, bahkan tajam. Tetapi dalam tradisi akademik dan demokrasi olahraga, kritik adalah bagian dari ekosistem perbaikan.
Asghar menyinggung penalti yang dianggap janggal, keputusan handsball yang diperdebatkan, serta sikap wasit yang dinilai abai terhadap potensi penggunaan VAR. Ia menyebut istilah “mafia”, metafora yang sering dipakai publik untuk menggambarkan ketidakpercayaan terhadap tata kelola sepak bola nasional.
Pertanyaannya: apakah kritik keras terhadap otoritas pertandingan otomatis identik dengan penghinaan? Dalam teori sepak bola modern, Jonathan Wilson dalam bukunya Inverting the Pyramid menjelaskan evolusi sepak bola bukan hanya perubahan taktik, tetapi juga perubahan struktur kekuasaan di dalamnya.
Mulai dari pelatih, federasi, hingga wasit. Wilson menekankan bahwa legitimasi permainan bertumpu pada trust (kepercayaan). Tanpa kepercayaan pada kepemimpinan wasit, permainan kehilangan makna kompetitifnya. Maka kritik terhadap wasit, dalam batas rasional, justru bagian dari menjaga integritas piramida itu.
Lebih jauh, filsuf sepak bola Eduardo Galeano dalam Soccer in Sun and Shadow menulis bahwa sepak bola adalah panggung tempat keindahan dan kebusukan bisa tampil bersamaan.
Ia menyebut “dalam sepak bola modern, keindahan sering kali disandera oleh bisnis dan kekuasaan.” Kritik Galeano tidak pernah dianggap sebagai penghinaan terhadap olahraga; ia justru dibaca sebagai cinta yang kecewa: a wounded love.
Asghar, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Manajer, memang figur publik. Namun, ia menegaskan unggahannya adalah refleksi personal. Dalam hukum positif, delik penghinaan bersifat aduan. Dalam etika olahraga, pelanggaran fair play melekat pada tindakan dalam pertandingan, bukan pada opini di ruang publik.
Jika kritik terhadap kualitas wasit dipidana etik tanpa ruang banding yang proporsional, maka pesan yang sampai ke publik adalah: jangan bersuara. Kita tidak sedang membela diksi yang mungkin berlebihan. Kita sedang membela hak untuk mengkritik tata kelola.
Sepak bola Indonesia pernah terlalu lama alergi terhadap kritik, padahal kritik adalah vitamin bagi institusi. Bahkan pemimpin negara seperti Prabowo Subianto pun hidup dalam ruang kritik terbuka. Mengapa federasi olahraga harus lebih sensitif daripada institusi kenegaraan?
Lebih substansial lagi, Asghar mengangkat isu rasisme yang menimpa Yakob Sayuri, isu yang menyentuh martabat kemanusiaan. Dalam filosofi olahraga modern, rasisme bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan pelanggaran moral universal.
Jika tudingan rasis tidak ditindak serius sementara kritik terhadap wasit dihukum cepat, publik berhak bertanya tentang skala prioritas keadilan. Sepak bola bukan hanya hiburan; ia identitas. Bagi Maluku Utara, Malut United adalah simbol harga diri kawasan timur yang sering merasa dipinggirkan.
Ketika seorang pengurus bersuara lantang, itu bukan sekadar pembelaan klub, melainkan pembelaan terhadap martabat sepak bola Indonesia. Kritik yang dibungkam tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah dari stadion ke ruang-ruang diskusi, dari tribun ke meja kopi, dari media sosial ke ingatan kolektif.
Karena itu, dalam semangat perbaikan yang lebih besar, patut kiranya federasi melalui Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia meninjau kembali keputusan sanksi terhadap Asghar Saleh. Bukan sebagai bentuk kekalahan institusi, melainkan sebagai wujud kebesaran hati dan kedewasaan organisasi.
Setiap sistem bisa saja khilaf dalam membaca konteks, tetapi sistem yang sehat adalah sistem yang berani melakukan koreksi. Meninjau ulang bukan berarti melemahkan disiplin, melainkan memperkuat legitimasi.
Jika tujuan utama adalah perbaikan sepak bola nasional, maka ruang dialog dan evaluasi jauh lebih bermakna daripada penghukuman yang berpotensi menutup percakapan publik.
Dalam bahasa sepak bola, wasit adalah penjaga ritme, sportivitas dan keadilan permainan. Tetapi dalam bahasa demokrasi, kritik adalah penjaga kewarasan publik. Keduanya harus berjalan beriringan.
Membela Asghar bukan berarti membenarkan semua kata-katanya, tetapi menegaskan bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan keberanian untuk dikritik. Karena hanya dari kritiklah perbaikan itu lahir.
Dan seperti ditulis Galeano, sepak bola akan selalu menjadi “cermin dunia”. Pertanyaannya: apakah kita siap bercermin, atau memilih memecahkan kaca ketika bayangan itu tak kita suka?.
***




