Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku dan daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda II, mengesampingkan perbedaan demi mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting kesadaran kebangsaan, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Warisan sejarah ini menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuan menyatukan keberagaman menjadi kekuatan kolektif untuk menjaga persatuan dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih adil. Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026, tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” mengingatkan generasi muda akan tanggung jawabnya membangun masa depan bangsa.
Filosofi logo “Besi yang Menjadi Cahaya” merepresentasikan karakter yang ditempa melalui proses hingga memberi manfaat nyata. Dalam pembangunan infrastruktur, besi harus dirangkai dan dipadukan melalui perhitungan teknis yang tepat agar menghasilkan struktur yang kokoh, sebagaimana karakter pemuda harus dibentuk melalui ilmu, integritas, kerja keras, dan kepedulian.
Sebab, masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan semangat, tetapi membutuhkan generasi muda yang mampu mengubah nilai menjadi karya dan menghadirkan pembangunan yang adil bagi seluruh masyarakat. Makna tema Hari Sumpah Pemuda tahun ini diuji melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan di baliho atau media sosial.
Patriotisme, kegigihan, dan empati harus diwujudkan melalui gagasan berbasis ilmu, ketangguhan menghadapi tantangan, serta kepedulian terhadap masyarakat yang masih terbatas akses infrastrukturnya. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, persatuan tidak cukup dirawat melalui ikrar kebangsaan, tetapi juga harus diperkuat melalui pembangunan yang menghubungkan wilayah dan membuka kesempatan secara merata.
Karena, setiap jalan, jembatan, dan dermaga seharusnya bukan hanya menghubungkan pulau, melainkan juga mendekatkan masyarakat pada keadilan dan kesejahteraan.
Beton yang Belum Merata
Indonesia memiliki 17.380 pulau, tetapi kekayaan geografis ini belum diiringi pemerataan pembangunan. Data SUPAS 2025 menunjukkan 55,65 persen penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara ribuan desa masih menghadapi keterbatasan akses listrik dan internet.
Kondisi ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan bukan sekadar kemegahan infrastruktur di pusat pertumbuhan, melainkan kemampuan menghadirkan konektivitas hingga ke pelosok Nusantara. Sebab, selama akses pembangunan belum merata, infrastruktur belum sepenuhnya menjadi jembatan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketimpangan pembangunan di wilayah kepulauan dipicu oleh sulitnya distribusi material, keterbatasan pelabuhan, cuaca, dan akses darat yang meningkatkan biaya serta waktu konstruksi. PLN pernah menyebut investasi jaringan listrik di wilayah 3T mencapai Rp25 juta hingga Rp45 juta per pelanggan. Realitas ini menuntut generasi muda membekali diri dengan ilmu, kompetensi, dan integritas agar mampu mengubah tantangan geografis menjadi pembangunan yang lebih adil dan merata.
Patriotik: Nasionalisme yang Berwujud dalam Kerja NyataÂ
Patriotisme pemuda 1928 diwujudkan melalui persatuan melawan kolonialisme, sedangkan patriotisme generasi 2026 harus tercermin dalam karya, integritas, dan tanggung jawab publik. Dalam pembangunan infrastruktur, cinta tanah air berarti menjaga mutu material, mematuhi standar teknis, dan melaporkan pekerjaan secara jujur.
Mengabaikan mutu atau memanipulasi laporan bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Sebab, patriotisme sejati bukan hanya membela bangsa, tetapi memastikan setiap infrastruktur dibangun secara aman, bermutu, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Patriotisme masa kini diwujudkan melalui keberanian menjaga integritas pembangunan, mulai dari insinyur yang menolak mengesahkan pekerjaan yang belum memenuhi standar hingga warga yang berani melaporkan penyimpangan. Inilah bentuk nyata cinta tanah air, memastikan setiap rupiah anggaran publik menghasilkan infrastruktur yang aman, bermutu, dan bermanfaat.
Di wilayah perbatasan dan kepulauan, listrik yang menerangi rumah, jalan yang membuka akses, dan dermaga yang kokoh bukan sekadar fasilitas, melainkan bukti kehadiran negara dan penegasan bahwa setiap warga, di pulau mana pun, berhak merasakan pembangunan. Patriotisme juga berarti bersedia mengabdi di wilayah terpencil dan pulau-pulau terdepan, tempat keahlian generasi muda paling dibutuhkan.
Sebuah jembatan sederhana, misalnya, dapat memangkas perjalanan anak-anak menuju sekolah dari dua jam menjadi lima belas menit. Di situlah patriotisme menemukan maknanya: bukan pada tingginya karier yang diraih, melainkan pada besarnya perubahan yang dihadirkan bagi masyarakat.
Gigih: Mengubah Bonus Demografi Menjadi Kekuatan Bangsa
Indonesia memiliki sekitar 66,83 juta pemuda atau 23,5 persen dari total penduduk, menurut Statistik Pemuda Indonesia 2025. Namun, potensi besar ini belum terserap optimal. Tingkat pengangguran pemuda mencapai 11,78 persen, sementara banyak lulusan bekerja tidak sesuai dengan kompetensinya.
Ironi ini terlihat ketika sejumlah desa masih membutuhkan tenaga terampil untuk membangun jalan, jembatan, dermaga, dan jaringan listrik, sementara jutaan pemuda berjuang memperoleh pekerjaan. Karena itu, kegigihan harus diwujudkan melalui penguatan kompetensi dan perluasan kesempatan kerja agar bonus demografi menjadi tenaga penggerak pembangunan, bukan sekadar angka statistik.
Kegigihan harus menjadi komitmen bersama antara pemuda dan negara. Pemuda perlu menguasai keterampilan teknis yang dibutuhkan, mulai dari pengelasan, kelistrikan, hingga pengendalian mutu konstruksi, serta tangguh menghadapi tantangan pembangunan di wilayah kepulauan. Sementara itu, negara harus menyediakan pelatihan vokasi yang terhubung langsung dengan proyek di daerah 3T.
Pemuda lokal harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton, agar pembangunan infrastruktur sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kompetensi, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Berempati: Membangun dengan Mendengar, Bukan Sekadar Mendirikan
Patriotisme dan kegigihan tanpa empati dapat melahirkan infrastruktur megah yang tidak menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, pembangunan harus berangkat dari suara warga, kearifan lokal, dan perlindungan lingkungan. Pengetahuan nelayan, tetua adat, dan masyarakat setempat perlu menjadi pertimbangan dalam merancang infrastruktur yang fungsional, tangguh terhadap bencana, dan selaras dengan ekosistem pesisir.
Sebab, pembangunan sejati bukan sekadar mendirikan bangunan, melainkan menjaga keselamatan, martabat, dan ruang hidup generasi mendatang. Pada titik inilah, patriotisme, kegigihan, dan empati menemukan keterkaitannya sebagai fondasi pembangunan yang berkeadilan.
Patriotisme memberikan arah pengabdian, kegigihan menjadi kekuatan untuk mengatasi tantangan, sedangkan empati memastikan setiap kebijakan dan karya pembangunan berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan, sebab pembangunan yang kehilangan arah akan kehilangan tujuan, pembangunan tanpa ketangguhan akan mudah terhenti, dan pembangunan tanpa empati berisiko menghasilkan kemajuan fisik yang mengabaikan manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan generasi muda tidak hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur yang berhasil dibangun, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.
Menyambung Ikrar di Setiap Pulau
Sumpah Pemuda 1928 menyatukan bangsa melalui ikrar kebangsaan, sedangkan generasi muda hari ini harus menerjemahkannya menjadi pembangunan yang merata dan berkeadilan.
Upaya ini membutuhkan kolaborasi pemerintah dalam pelatihan dan rekrutmen tenaga lokal, perguruan tinggi melalui praktik lapangan, serta dunia usaha lewat program magang yang relevan. Dengan demikian, pembangunan bukan sekadar menghubungkan pulau, tetapi juga membuka kesempatan, meningkatkan kompetensi pemuda, dan memperkuat persatuan bangsa.
Pengabdian generasi muda berarti hadir di wilayah yang membutuhkan, tangguh menghadapi tantangan, dan peduli terhadap masyarakat. Sembilan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda, persatuan harus dibuktikan melalui pembangunan yang menjangkau setiap pulau, dari dermaga hingga listrik dan konektivitas digital.
Sebab, persatuan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan keadilan yang dirasakan seluruh rakyat. Ketika besi menjadi cahaya di pelosok Nusantara, semangat Sumpah Pemuda hidup dalam karya dan pengabdian nyata.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk menerjemahkan patriotisme, kegigihan, dan empati ke dalam karya nyata yang berdampak bagi masyarakat. Sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu diperkuat untuk membuka ruang pengabdian, meningkatkan kompetensi pemuda, serta mempercepat pemerataan infrastruktur di wilayah kepulauan.
Sebab, kemajuan Indonesia tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan, tetapi dari keadilan manfaat pembangunan yang dirasakan seluruh rakyat. Ketika setiap pulau memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang, Sumpah Pemuda tidak sekadar dikenang sebagai sejarah, melainkan hidup dalam tindakan nyata untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan bersatu.
***
Penulis M Sudarwin Hasyim. ST.,MT adalah Direktur eksekutif Research of Construction Institute-Abad Nirmana Riset, Akademisi Universitas Bumi Hijrah Tidore, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Teknik Sipil (Manajemen Konstruksi) Universitas Brawijaya Malang.




