Radarmalut.com – Pemuda Kelurahan Tubo bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Tahap I menggelar sarasehan bertajuk ‘Kampung Tua Tubo: Sejarah dan Pelestarian Kampung Adat di Tengah Akulturasi Budaya’.

Forum ini untuk mendorong pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Kelurahan Tubo sebagai salah satu kampung tertua di Kota Ternate, Maluku Utara.

Kegiatan berlangsung di Kantor Lurah Tubo pada Jumat (10/6) malam, dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly. Hal tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Maluku Utara tahun 2026.

Ketua Panitia Sarasehan Budaya, Masdar Soleman mengatakan, kegiatan didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga nilai-nilai lokal.

Menurutnya, di tengah perkembangan zaman, perhatian masyarakat terhadap adat dan kearifan lokal mulai mengikis, sehingga ruang-ruang edukasi seperti sarasehan budaya sangat krusial.

“Tubo adalah salah satu kelurahan tertua di Ternate. Namun, kesadaran masyarakat terhadap adat dan budaya lokal masih perlu diperkuat. Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong masyarakat memahami identitas dan jati dirinya,” katanya.

Pihaknya berharap sarasehan tidak mandek sebagai forum diskusi semata, melainkan menjadi pemantik gerakan bersama untuk mendorong Tubo berkembang menjadi kampung adat yang berkarakter kuat.

Sementara, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Muhammad Tang menjelaskan, status kampung tua tidak bisa hanya bersandar pada cerita tutur turun-temurun, tetapi harus ditopang oleh bukti sejarah dan peninggalan arkeologis yang valid.

“Tubo memiliki nilai sejarah yang besar. Tinggalan budaya seperti makam kuno, situs permukiman lama, maupun jejak kehidupan masyarakat masa lalu perlu diidentifikasi dan didokumentasikan sebagai bagian dari upaya pelestarian,” jelasnya.

Tang menerangkan, Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan ini adalah bantuan pemerintah untuk komunitas maupun perorangan dalam mengembangkan kebudayaan daerah. Pada tahun 2026, tercatat ada 27 penerima manfaat program yang tersebar di wilayah Maluku Utara.

Rizal Marsaoly menyebut menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi memerlukan kolaborasi multidimensi yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, media, hingga masyarakat.

Rizal meminta agar hasil dari sarasehan segera ditindaklanjuti secara konkret, mulai dari pemetaan kawasan, penyusunan kajian ilmiah, hingga perencanaan pengembangan Tubo sebagai kampung tua yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.

“Kita jangan berhenti pada diskusi. Harus ada langkah konkret agar Tubo bisa berkembang menjadi kampung tua yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” imbuhnya.

***

Haerudin Md
Editor