Kawan, di tengah gemerlap pencapaian dan tumpukan kemewahan serta pengakuan sosial hari ini, manusia cenderung lupa pada sesuatu yang substansial: hidup ini tidak pernah benar-benar milik kita. Ia hanya titipan waktu, seperti seorang tamu yang datang bercerita, minum kopi, lalu pergi untuk selamanya.

Lalu, dalam kesementaraan itulah kesombongan tumbuh paling subur, seakan-akan umur dapat dinegosiasikan dengan proposal dan kematian bisa ditunda dengan putusan pengadilan. Tidak begitu kawan. Kesombongan, dalam perspektif filsafat, bukan sekadar cacat moral, melainkan ilusi eksistensial.

Ernest Becker dalam bukunya The Denial of Death (1973), menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya hidup dalam ketakutan akan kematian, lalu menutupinya dengan ‘proyek keabadian’ kekuasaan, prestasi dan simbol status. Namun, proyek itu rapuh. Ia hanya perisai psikologis, bukan solusi ontologis.

Kesombongan, dalam hal ini, adalah bentuk penyangkalan paling halus terhadap kefanaan. Sejalan dengan pemikiran Islam, Al-Ghazali melalui magnum opus-nya Ihya’ Ulumuddin menulis dengan tajam bahwa kesombongan (takabbur) adalah penyakit hati yang membuat manusia menolak kebenaran dan meremehkan sesama.

Ia menegaskan, “Kesombongan adalah melihat diri lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran yang datang kepadanya.” Dalam pandangan ini, sombong bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga kegagalan spiritual dalam memahami posisi diri di hadapan Tuhan.

Di titik ini, kita perlu jujur: apa yang sebenarnya kita banggakan? Harta yang bisa hilang dalam semalam? Jabatan yang bisa dicopot dalam selembar surat? Atau popularitas yang bergantung pada algoritma dan opini publik? Semua itu tidak pernah benar-benar stabil. Ia seperti ombak yang datang dengan gegap, lalu surut tanpa pamit.

Kesementaraan hidup seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan keangkuhan. Sebab kesadaran akan batas adalah fondasi kebijaksanaan. Orang yang memahami bahwa hidupnya singkat, akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih lembut dalam berbicara, dan lebih adil dalam memperlakukan orang lain.

Ia tidak punya waktu untuk sombong, karena ia tahu waktu itu sendiri tidak berpihak kepadanya. Namun realitas kita hari ini justru sebaliknya. Banyak orang berlomba-lomba meninggikan diri, membangun citra dan menumpuk pengakuan.

Seolah-olah dunia adalah panggung abadi, padahal ia hanya sandiwara pendek dengan durasi yang tidak pernah kita ketahui. Maka, menjadi rendah hati bukan berarti merendahkan diri, tetapi memahami proporsi. Kita ini kecil di hadapan semesta, di hadapan sejarah, terlebih di hadapan Sang Pencipta.

Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk memurnikan: bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan, dan segala yang kita capai hanyalah persinggahan. Karena itu, kesombongan adalah kemewahan yang tidak mampu dibayar oleh umur manusia. Ia terlalu mahal untuk sesuatu yang sementara.

Maka, jika hidup ini hanya sekejap, mengapa kita harus isi dengan merasa lebih dari yang lain? Mari kita berbenah, kembali ke jalan yang benar. Karena, bukan siapa yang paling tinggi yang akan diingat, tetapi siapa yang paling memberi makna.

***