Sore itu, di sebuah kedai kopi, dalam lamunan bunyi sendok yang mengesek gelas dan aroma robusta yang menguap, seorang teman bertanya pada saya.

“Bang, nikel kita ini luar biasa. PAD Maluku Utara naik, investor datang, jalan diperbaiki. Tapi kenapa adik-adik mahasiswa kita masih sulit mencari buku bacaan?”

Saya terdiam. Di luar, truk-truk proyek melintas. Pikiran saya berupaya mencari argumen yang lebih tepat untuk berbicara. Maluku Utara hari ini bukan lagi daerah pinggiran. Ia menjadi pusat perhatian dunia karena nikel.

Negara-negara industri berebut pasokan untuk kendaraan listrik dan energi masa depan. Kita bangga dan memang patut bangga karena tanah ini kini disebut dalam forum-forum ekonomi global.

Namun, kebanggaan yang tidak dikawal akal sehat bisa berubah menjadi euforia yang membutakan. Pertanyaannya, apakah ledakan nikel ini juga melahirkan ledakan literasi? Jangan-jangan yang terjadi bukan memperkaya negara dan rakyat, melainkan hanya memperkaya segelintir orang.

Jangan-jangan, kekayaan alam yang mestinya menjadi milik bersama justru berhenti di rekening kecil yang berputar di lingkaran kelompok tertentu.

Di kedai itu, saya menjawab pelan. “Kalau tambang hanya jadi angka di laporan, tapi tak jadi buku di tangan adik-adik mahasiswa, berarti kita sedang salah arah.” Negara seperti Norwegia pernah menghadapi godaan yang sama saat menemukan minyak.

Mereka tidak larut dalam pesta sesaat. Mereka membangun dana abadi, memperkuat pendidikan, memastikan kekayaan alam menjelma menjadi kecerdasan kolektif. Mereka sadar, sumber daya alam itu terbatas. Tetapi sumber daya manusia, jika dirawat, tak mengenal habis.

Sementara kita? gedung perpustakaan dibangun, tetapi isinya minim. Anggaran literasi sering menjadi yang paling kecil, cukup untuk beli nasi, tetapi tak ada lauknya. Pidato tentang ‘SDM unggul’ terdengar megah, tetapi buku karya penulis lokal dibiarkan terbit dengan perjuangan sendiri.

Ki Hajar Dewantara, melalui Taman Siswa, telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah jalan memerdekakan manusia. Bukan sekadar mencetak tenaga kerja industri, tetapi membangun kesadaran berpikir.

Tanpa literasi, tambang hanya akan melahirkan buruh dan konglomerat. Dengan literasi, tambang bisa melahirkan ilmuwan, penulis, pemimpin visioner.

Tak saja itu, teman saya kembali bertanya. “Bang, kalau nikel habis, apa yang tersisa?”. Saya tersenyum getir. “Kalau kita gagal membangun budaya baca, yang tersisa hanya lubang di tanah dan lubang dalam pikiran.”

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf. Ia adalah kemampuan membaca zaman. Ia membuat rakyat mampu bertanya, mengkritik dan mengawasi.

Ia mencegah kekayaan alam dibajak oleh segelintir elite. Ia memastikan tambang bekerja untuk negara dan rakyat, bukan untuk kepentingan sempit yang disamarkan sebagai pembangunan.

Ledakan nikel memang bisa membuat grafik ekonomi naik. Tetapi peradaban tidak dibangun oleh grafik. Peradaban dibangun oleh gagasan.

Kita tidak anti tambang. Kita hanya menolak ketimpangan. Jika tambang adalah tubuh ekonomi, maka literasi adalah jiwanya. Jika nikel adalah otot pembangunan, maka buku adalah otak peradaban.

Sore itu kopi kami habis. Senja turun perlahan. Percakapan berhenti, tetapi pertanyaan itu tetap tinggal di udara: apakah kita sedang membangun gedung atau sedang membangun peradaban?.

***