Radarmalut.com – Ketua LBH Ansor Maluku Utara, Zulfikran Bailussy menyebut keberadaan pers tidak sekadar pelengkap dalam sistem demokrasi. Pers merupakan salah satu pilar utama yang berperan menjaga akal sehat publik di tengah derasnya arus kekuasaan, kepentingan ekonomi, serta manipulasi informasi.
Dalam pandangannya, peran pers di Indonesia, termasuk di Maluku Utara, sangat strategis. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan, membuka fakta yang disembunyikan, serta memberi ruang bagi suara warga yang sering kali terpinggirkan.
“Pers yang sehat bukan pers yang aman dan nyaman, tetapi pers yang berani, kritis, dan berpihak pada kebenaran. Demokrasi tanpa pers yang merdeka hanyalah prosedur kosong,” kata Zulfikran dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Zulfikran mengapresiasi terhadap kerja keras jurnalis di Maluku Utara yang tetap konsisten mengungkap berbagai persoalan publik meski berada dalam keterbatasan dan tekanan. Mulai dari isu konflik agraria, kerusakan lingkungan, praktik pertambangan, hingga dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemerdekaan pers hingga kini masih kerap diuji. Tantangan itu tidak hanya berupa ancaman kekerasan fisik, tetapi juga kriminalisasi, intimidasi, pelaporan hukum, hingga tekanan ekonomi terhadap media dan jurnalis.
“Kita tidak boleh menormalisasi pemanggilan wartawan oleh aparat, pelaporan pidana atas karya jurnalistik, atau pembungkaman dengan dalih stabilitas. Itu bertentangan langsung dengan semangat Undang-Undang Pers,” jelasnya.
Menurutnya, setiap sengketa pemberitaan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme etik dan hukum pers, bukan dengan pendekatan pidana. Cara-cara represif justru berpotensi merusak kemerdekaan pers dan menciptakan iklim ketakutan di kalangan jurnalis.
Di sisi lain, Zulfikran menyampaikan catatan kritis bagi insan pers agar tetap menjaga integritas dan profesionalisme. Ia menekankan pentingnya independensi media, terutama di tengah kuatnya relasi kuasa lokal yang kerap berusaha mempengaruhi ruang redaksi.
“Pers harus berani menjaga jarak dengan kekuasaan dan modal. Tanpa independensi, pers berisiko berubah dari pengawas menjadi corong penguasa,” cakapnya.
LBH Ansor Maluku Utara, kata Zulfikran, berkomitmen untuk terus berdiri bersama pers dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, perlindungan jurnalis, serta penegakan hukum yang adil. Sinergi antara advokat, media, dan masyarakat sipil dinilai menjadi kunci penting menjaga demokrasi tetap hidup, terutama di tingkat daerah.
“Selamat Hari Pers Nasional. Teruslah menulis dengan keberanian, bekerja dengan etika, dan berpihak pada kebenaran. Pers yang merdeka adalah napas demokrasi,” imbuhnya.
***




