“Saya ditelepon rekannya bernama Jalal, dia bilang moro (makhluk gaib) simpan suami saya, jadi tolong cari orang pintar. Namun begitu saya sampai di Jailolo terus ditelepon ulang pukul 16.05 WIT katanya tidak usah ke Loloda karena sudah ditemukan tapi meninggal dunia,” katanya saat ditemui di lokasi autopsi, Rabu (15/5/2024).
Kuasa Hukum Keluarga Korban, Adrian mengatakan, gejala kesurupan hanya ada dua faktor, yakni gangguan mental dan ada riwayat bahwa pernah kejadian sebelumnya tapi nyatanya tidak ada.
“Almarhum pada saat keluar itu bawa parang, tas dan pakai celana panjang. Namun tas yang ditemukan harusnya ada di lokasi kejadian kalau benar almarhum jatuh dari tebing,” tandasnya.
Adrian menjelaskan, tujuan autopsi ini ingin mengetahui bahwa penyebab meninggalnya jatuh dari tebing atau ada faktor lain. Kejanggalan pasti ada tapi menitikberatkan untuk mencari kepastian penyebab kematian.
“Faktor lain itu mungkin ada dugaan dianiaya dulu atau bagaimana. Tapi kalau ada sebab lain, maka kami harap Polres Halmahera Barat dan Polda Maluku Utara untuk memprosesnya ke jalur hukum yang berlaku. Harapannya semoga cepat tuntas,” pungkasnya.
***



Tinggalkan Balasan