Radarmalut.com – Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, dilanda ratusan kejadian bencana alam sepanjang Januari hingga Desember 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 132 kejadian selama periode tersebut.

Plt Kepala BPBD Halmahera Selatan, Aswin Adam menyebut sebagian besar bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh faktor cuaca seperti curah hujan tinggi, angin, dan kondisi alam lainnya.

“Bencana yang paling dominan adalah banjir dengan 81 kejadian, disusul abrasi 20 kejadian, kebakaran 13 kejadian, longsor 9 kejadian, angin puting beliung 8 kejadian, serta banjir rob 1 kejadian,” kata Aswin saat dikonfirmasi, Selasa (23/12/2025).

Dari total kejadian, BPBD telah melakukan penanganan berupa distribusi bantuan logistik kebutuhan dasar kepada masyarakat terdampak. Tercatat sebanyak 5.832 kepala keluarga atau 20.216 jiwa menerima bantuan, sementara 52 unit rumah korban bencana telah ditangani.

Selain bantuan logistik, BPBD juga melakukan penanganan fisik darurat di delapan desa. Penanganan itu meliputi normalisasi dan perkuatan tebing sungai di enam desa serta pembangunan talud pantai di dua desa.

Aswin mengungkapkan, sejumlah lokasi mengalami bencana secara berulang sehingga perlu menjadi prioritas penanganan ke depan. Lokasi prioritas mencakup normalisasi dan perkuatan tebing sungai di empat desa, pembangunan talud pantai di lima desa, serta perbaikan drainase atau saluran air di dua desa.

“Kami mengusulkan pendanaan ke BNPB melalui APBN, berkoordinasi dengan BPBD Provinsi untuk aset kewenangan Pemprov Maluku Utara, serta melaporkan kepada pimpinan daerah agar ditindaklanjuti oleh instansi teknis terkait pada tahun anggaran berikutnya,” jelasnya.

Di bidang kesiapsiagaan, BPBD melaksanakan program sosialisasi, komunikasi, informasi, dan edukasi kebencanaan di empat desa, enam sekolah, serta satu instansi pemerintah. Selain itu, simulasi kebencanaan dilakukan di Desa Kawasi, Pulau Obi, serta survei potensi bencana di enam desa.

Sementara pada tahap pasca bencana, BPBD melakukan pemetaan aset BNPB di lima desa, pendataan kerugian pasca bencana di empat desa, serta mengajukan usulan dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi ke BNPB.

“Diperlukan kerja sama pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pers, dan akademisi. Saat ini kami juga sedang menyusun upaya untuk memperoleh Pooling Fund bencana melalui skema pembiayaan bersama APBD, APBN, dan Bank Dunia,” pungkasnya.

***

Haerudin Muhammad
Editor