Radarmalut.com – DPRD Kabupaten Pulau Morotai melaksanakan rapat paripurna istimewa dalam agenda memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Kabupaten Pulau Morotai, Senin (30/3/2026).

Rapat dipimpinoleh Ketua DPRD Morotai, Muhamad Rizki, dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

Dalam pidatonya, Rizki menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-17 Morotai tahun ini memiliki makna yang lebih mendalam karena dilaksanakan usai momentum Idul Fitri 1447 Hijriah.

Rizki menjelaskan, pergeseran jadwal perayaan dari 20 Maret menjadi 30 Maret merupakan bentuk penghormatan terhadap bulan suci Ramadan sekaligus menyesuaikan dengan kebijakan cuti nasional.

“Pergeseran ini tidak mengurangi nilai historis, justru menambah keberkahan karena kita merayakannya dalam suasana kemenangan,” ujarnya.

Rizki menyebut, peringatan HUT Morotai bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk refleksi bersama. Ia menekankan tiga hal utama yang harus menjadi perhatian, yakni retrospektif, introspektif, dan prospektif.

Menurutnya, perjuangan terbentuknya Kabupaten Pulau Morotai tidaklah mudah. Ia mengingatkan daerah ini lahir dari pengorbanan para pejuang pemekaran yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa.

“Kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah api perjuangan itu masih menyala, atau justru mulai padam karena kenyamanan jabatan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, DPRD juga menghadirkan pembacaan kilas balik sejarah perjuangan pemekaran oleh  Akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Morotai, Saiful Sumai sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh pendiri daerah.

Rizki turut menyoroti kondisi daerah yang saat ini dihadapkan pada tantangan keterbatasan fiskal akibat dinamika nasional dan global. Namun demikian, kondisi tersebut tidak dijadikan alasan untuk menyerah.

“Jika anggaran terbatas, maka kreativitas harus diperluas. Jika dana menyusut, maka kolaborasi harus diperkuat. Jangan sampai kita miskin gagasan hanya karena sibuk mengeluh,” ucapnya.

Rizki juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk lebih fokus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat dibandingkan terjebak dalam perbedaan pandangan yang tidak produktif.

“Jangan pernah berhenti mengkritik, karena kritik adalah tanda cinta. Namun lakukan dengan cara yang membangun,” pintanya.

Rapat paripurna ditutup dengan ucapan Dirgahayu ke-17 Kabupaten Pulau Morotai serta harapan agar daerah ini terus berkembang menjadi wilayah yang maju dan bermartabat di kawasan Pasifik. “Morotai bukan sekadar titik di peta, tetapi rumah dan harapan bagi kita semua,” pungkas Rizki.

***

Haerudin Muhammad
Editor
Mirsa Saibi
Reporter